Roman Script    Reciting key words            Previous Sūrah    Quraan Index    Home  

4) Sūrat An-Nisā'

Printed format

4)

Toggle thick letters. Most people make the mistake of thickening thin letters in the words that have other (highlighted) thick letter Toggle to highlight thick letters
Yā 'Ayyuhā An-Nāsu Attaqū Rabbakumu Al-Ladhī Khalaqakum Min Nafsin Wāĥidatin Wa Khalaqa Minhā Zawjahā Wa Baththa Minhumā Rijālāan Kathīrāan Wa Nisā'an ۚ Wa Attaqū Allaha Al-Ladhī Tasā'alūna Bihi Wa Al-'Arĥāma ۚ 'Inna Allāha Kāna `Alaykum Raqībāan 004-001 [[4 ~ AN-NISA' (WANITA) Pendahuluan: Madaniyyah, 176 ayat ~]] Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan yang telah menciptakan kalian dari satu nafs (jiwa). Dari satu nafs itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari sepasang nafs tersebut Dia kemudian memperkembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya dari nafs yang satu itulah kalian berasal. Takutlah kepada Allah, tempat kalian memohon segala yang kalian butuhkan dan yang nama-Nya kalian sebut dalam setiap urusan. Peliharalah tali silaturahmi dan janganlah kamu putuskan hubungan silaturahmi itu, baik yang dekat maupun yang jauh. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi diri kalian. Tidak ada satu pun urusan kalian yang tersembunyi dari-Nya. Allah akan membalas itu semua. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‌ ‌‍ ‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌‌‌ ‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌ ‍‌ ‌‍‍‍ۚ‍‍‍‍‌‍‍‍‌‍‍‍ ۚ ‍ ‍‍‍ ‌‍
Wa 'Ātū Al-Yatāmá 'Amwālahum ۖ Wa Lā Tatabaddalū Al-Khabītha Biţ-Ţayyibi ۖ Wa Lā Ta'kulū 'Amwālahum 'Ilá 'Amwālikum ۚ 'Innahu Kāna Ĥūbāan Kabīrāan 004-002 Berikanlah kepada anak yatim harta yang berhak mereka miliki. Peliharalah harta itu demi kemaslahatan mereka. Berikan kepada mereka yang baik dan jangan kalian berikan yang buruk. Jangan pula kalian mengambil harta mereka lalu memasukkannya ke dalam bagian dari harta kalian. Sungguh, hal itu merupakan dosa besar. ‌ ‌‌ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‌ ‌‌ ‌‍‌ ‌‌ ۚ‍‍‌ ‍
Wa 'In Khiftum 'Allā Tuqsiţū Fī Al-Yatāmá Fānkiĥū Mā Ţāba Lakum Mina An-Nisā' Mathná Wa Thulātha Wa Rubā`a ۖ Fa'in Khiftum 'Allā Ta`dilū Fawāĥidatan 'Aw Mā Malakat 'Aymānukum ۚ Dhālika 'Adná 'Allā Ta`ūlū 004-003 Jika kalian merasa takut berbuat lalim kepada anak-anak yatim, karena merupakan dosa besar, maka takutlah juga akan penderitaan yang dialami oleh istri-istri kalian jika kalian tidak berlaku adil kepada mereka dan jika kalian kawin dengan lebih dari empat istri. Kawinilah, di antara mereka itu, dua, tiga atau empat, jika kalian yakin akan mampu berlaku adil. Jika kalian merasa takut tidak bisa berlaku adil, maka cukup seorang saja. Atau, kawinilah budak-budak perempuan kalian. Hal itu lebih dekat untuk menghindari terjadinya kezaliman dan aniaya,(1) juga lebih dekat untuk tidak memperbanyak anak, yang membuat kalian tidak mampu memberikan nafkah. (1) Prinsip poligami telah disyariatkan sebelumnya oleh agama-agama samawi selain Islam. Syariat Tawrt menetapkan seorang laki- laki boleh menikah dengan siapa saja yang dikehendakinya. Disebutkan bahwa para nabi menikah dengan puluhan wanita. Tawrt adalah kitab perjanjian lama yang menjadi rujukan orang Nasrani manakala mereka tidak menemukan ketentuan hukum dalam Injl atau risalah-risalah rasul yang bertentangan dengannya. Akan tetapi belum pernah didapatkan ketentuan yang dengan jelas bertentangan dengan Injl. Pada abad pertengahan, gereja membolehkan praktek poligami. Sebagaimana diketahui dalam sejarah Eropa, para raja banyak melakukan praktek poligami. Dalam hal ini, Islam berbeda dengan syariat agama samawi lainnya. Dalam agama Islam, poligami ada batasannya. Islamlah agama samawi pertama yang membatasi poligami. Ada tiga syarat mengapa Islam membolehkan poligami. Pertama, jumlah istri tidak boleh lebih dari empat. Kedua, suami tidak boleh berlaku zalim terhadap salah satu dari mereka (harus berbuat adil). Ketiga, suami harus mampu memberikan nafkah kepada semua istrinya. Para ahli fikih menetapkan ijm' (konsensus) bahwa barangsiapa merasa yakin dirinya tidak akan dapat bersikap adil terhadap wanita yang akan dinikahinya, maka pernikahan itu haram hukumnya. Namun, larangan itu hanya terbatas pada tataran etika keagamaan yang tidak masuk dalam larangan di bawah hukum peradilan. Alasannya, pertama, bersikap adil terhadap semua istri merupakan persoalan individu yang hanya diketahui oleh yang bersangkutan. Kedua, kemampuan memberi nafkah merupakan perkara nisbi yang tidak bisa dibatasi oleh satu ukuran tertentu. Ukurannya sesuai dengan pribadi masing-masing. Ketiga, sikap zalim atau tidak mampu memberi nafkah berkaitan dengan hal-hal yang akan terjadi kemudian. Kesahihan sebuah akad tidak bisa didasarkan pada prediksi, tetapi harus didasarkan pada hal-hal yang nyata. Kadang-kadang seorang yang zalim bisa menjadi adil, dan seorang yang kekurangan harta pada suatu saat akan mampu memberi nafkah. Sebab, harta kekayaan tidak bersifat langgeng. Meskipun demikian, Islam menentukan bila seorang suami berlaku zalim terhadap istrinya atau tidak mampu memberikan nafkah kepadanya, maka istri berhak menuntut cerai. Namun demikian, juga tidak ada larangan bagi suami untuk tetap meneruskan ikatan pernikahannya bila hal itu merupakan pilihan dan kehendaknya. Dengan membolehkan poligami yang dipersempit dengan syarat-syarat di atas, Islam telah menanggulangi berbagai masalah sosial, di antaranya: Pertama, ada kemungkinan jumlah laki-laki berada di bawah jumlah wanita, terutama pada masa-masa setelah terjadi perang. Di beberapa negara Eropa, misalnya, setelah terjadi perang, perbandingan antara laki-laki dan wanita layak nikah mencapai 1:7. Maka merupakan kehormatan bagi seorang wanita untuk menjadi istri, meskipun harus dimadu, daripada harus berpindah-pindah dari satu lelaki ke lelaki lain. Kedua, kadang-kadang terdapat laki-laki dan perempuan yang tidak bisa untuk tidak melakukan hubungan seksual, baik secara sah atau tidak. Maka, demi kemaslahatan umum, akan lebih baik kalau hubungan itu dilegitimasi oleh agama. Bagi wanita, lebih baik menjadi istri daripada berpindah tangan dari yang satu kepada yang lainnya. Meskipun dibolehkannya poligami ini memiliki dampak negatif, tetapi dampak itu jauh lebih kecil daripada jika poligami dilarang, sebab terbukti dapat mencegah terjadinya masalah sosial yang lebih besar dari sekadar berpoligami. Ketiga, tidak mungkin seorang wanita kawin dengan laki-laki beristri kecuali dalam keadaan terpaksa. Kalaupun istri pertama akan menderita lantaran suaminya kawin lagi dengan wanita lain, maka wanita lain itu juga akan mengalami penderitaan lebih besar jika tidak dikawini. Sebab ia bisa menjadi kehilangan harkatnya sebagai wanita atau menjadi wanita tuna susila. Sesuai dengan kaidah yurisprudensi Islam, Ushl al-Fiqh, risiko yang besar dapat dihindari dengan menempuh risiko yang lebih kecil. Keempat, kadangkala seorang istri menderita penyakit yang membuatnya tidak bisa melakukan hubungan seksual atau mengalami kemandulan. Maka perkawinan dengan wanita lain akan membawa dampak positif bagi yang bersangkutan, di samping dampak sosial. Karena itulah Islam membuka pintu poligami dengan sedikit pembatasan, tidak menutupnya rapat-rapat. Islam adalah syariat Allah yang mengetahui segala sesuatu. Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. ‌‌ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌ ‌ ‌‌‍‍‍ ۖ ‍ ‌‌ ‌ ‌ ‌‌‌ ‌ ‌ ۚ ‌ ‌‌ ‌‌ ‌
Wa 'Ātū An-Nisā' Şaduqātihinna Niĥlatan ۚ Fa'in Ţibna Lakum `An Shay'in Minhu Nafsāan Fakulūhu Hanī'āan Marī'āan 004-004 Berikanlah maskawin kepada wanita yang kalian nikahi dengan penuh kerelaan. Tidak ada hak bagi kalian terhadap maskawin itu. Tetapi jika mereka dengan senang hati menyerahkan sebagian hak maskawin itu, ambillah dan manfaatkanlah pemberian itu dengan baik dan terpuji. ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ۚ ‍‍‍ ‍‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‍
Wa Lā Tu'utū As-Sufahā'a 'Amwālakumu Allatī Ja`ala Allāhu Lakum Qiyāmāan Wa Arzuqūhum Fīhā Wa Aksūhum Wa Qūlū Lahum Qawlāan Ma`rūfāan 004-005 Janganlah kalian serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, yang tidak bisa mengatur harta benda, harta yang menjadi hak milik mereka. Karena harta mereka dan harta anak yatim itu seolah- olah harta kalian juga yang harus dijaga agar tidak hilang. Allah telah menjadikannya sebagai sumber penghidupan. Dari keuntungannya, berilah kepada mereka sekadar bagian yang mereka butuhkan untuk makan. Berikan pula mereka pakaian. Pergaulilah mereka dengan baik dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik, tanpa menyakiti dan merendahkannya. ‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌ ‌‌‌‍‍ ‌ ‌ ‌‍‌ ‌
Wa Abtalū Al-Yatāmá Ĥattá 'Idhā Balaghū An-Nikāĥa Fa'in 'Ānastum Minhum Rushdāandfa`ū 'Ilayhim 'Amwālahum ۖ Wa Lā Ta'kulūhā 'Isfāan Wa Bidāan 'An Yakbarū ۚ Wa Man Kāna Ghanīyāan Falyasta`fif ۖ Wa Man Kāna Faqīrāan Falya'kul Bil-Ma`rūfi ۚ Fa'idhā Dafa`tum 'Ilayhim 'Amwālahum Fa'ash/hidū `Alayhim ۚ Wa Kafá Billāhi Ĥasībāan 004-006 Ujilah kemampuan berpikir anak-anak yatim tersebut, selidikilah keadaannya dan kemampuannya menggunakan harta sebelum menginjak dewasa. Jika mereka telah memenuhi kelayakan untuk menikah, dan menurut pendapat kalian mereka telah pandai memelihara harta, maka serahkanlah harta-harta mereka. Janganlah kalian memakan harta anak-anak yatim dengan melampaui batas dan juga janganlah tergesa-gesa memanfaatkannya selagi mereka belum dewasa. Barangsiapa, di antara pemelihara harta itu, yang mampu, maka hendaknya ia menahan diri untuk tidak memakannya. Barangsiapa yang fakir, maka ia cukup memakan harta itu menurut yang sepatutnya. Dan, bila kalian telah benar-benar menyerahkan harta itu kepada mereka, hendaknya kalian menyediakan saksi. Cukuplah Allah sebagai pembalas dan pengawas atas persaksian itu. ‌ ‍‌ ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌‌ ‌ ‌‌ ۖ ‌‌ ‍‌ ‌‍‌ ‌‌‌‌‌ ‌‌ۚ ‌‍‌‍‍ ‍‌ۖ ‌‍‌‍‍‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‌ ۚ ‌‌‌ ‌ ‌ ‌‌ ‌ۚ ‌‌ ‍
Lilrrijāli Naşībun Mimmā Taraka Al-Wālidāni Wa Al-'Aqrabūna Wa Lilnnisā'i Naşībun Mimmā Taraka Al-Wālidāni Wa Al-'Aqrabūna Mimmā Qalla Minhu 'Aw Kathura ۚ Naşībāan Mafrūđāan 004-007 Laki-laki mendapatkan hak bagian dari harta peninggalan orangtua dan kerabat karibnya sebagai warisan. Demikian pula bagi wanita, ada hak bagian dari harta peninggalan itu, tanpa dihilangkan atau dikurangi. Bagian-bagian tersebut telah ditentukan demikian, baik harta itu sedikit maupun banyak. ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍ ‍‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍ ‍‍‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌ ‍ۚ‍‍‌ ‌
Wa 'Idhā Ĥađara Al-Qismata 'Ūlū Al-Qurbá Wa Al-Yatāmá Wa Al-Masākīnu Fārzuqūhum Minhu Wa Qūlū Lahum Qawlāan Ma`rūfāan 004-008 Apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim atau orang-orang miskin yang tidak memiliki hak atas bagian itu, maka berikanlah kepada mereka secukupnya dari bagian itu sebagai penghargaan atas mereka agar terhindar dari rasa dengki di hati mereka. Dan, sebaiknya, pemberian itu disertai dengan ucapan yang baik. ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍ ‍‌‍‍‍ ‌‍‌ ‌
Wa Līakhsha Al-Ladhīna Law Tarakū Min Khalfihim Dhurrīyatan Đi`āfāan Khāfū `Alayhim Falyattaqū Allaha Wa Līaqūlū Qawlāan Sadīdāan 004-009 Manusia sekali-kali tidak boleh berlaku zalim terhadap anak-anak yatim. Hendaklah mereka merasa takut terhadap keturunannya yang lemah akan menerima perlakuan zalim sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak yatim. Bertakwalah kepada Allah dalam menghadapi anak-anak yatim. Berbicaralah dengan ucapan yang mengarah kepada kebenaran tanpa berlaku zalim kepada siapa pun. ‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ‍‌ ‍ ‌‌‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌‌ ‌
'Inna Al-Ladhīna Ya'kulūna 'Amwāla Al-Yatāmá Žulmāan 'Innamā Ya'kulūna Fī Buţūnihiman ۖ Wa Sayaşlawna Sa`īrāan 004-010 Orang-orang yang berlaku zalim terhadap anak-anak yatim dengan memakan hartanya secara tidak benar, sebenarnya mereka memakan sesuatu yang menggiringnya ke api neraka. Mereka akan menerima siksa pada hari kiamat berupa api neraka yang sangat menyakitkan. ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‍‌‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌ۖ ‌‍‍‍‍‍
şīkumu Allāhu Fī 'Awlādikum ۖ Lildhdhakari Mithlu Ĥažži Al-'Unthayayni ۚ Fa'in Kunna Nisā'an Fawqa Athnatayni Falahunna Thuluthā Mā Taraka ۖ Wa 'In Kānat Wāĥidatan Falahā An-Nişfu ۚ Wa Li'abawayhi Likulli Wāĥidin Minhumā As-Sudusu Mimmā Taraka 'In Kāna Lahu Waladun ۚ Fa'in Lam Yakun Lahu Waladun Wa Warithahu~ 'Abawāhu Fali'ammihi Ath-Thuluthu ۚ Fa'in Kāna Lahu~ 'Ikhwatun Fali'ammihi As-Sudusu ۚ Min Ba`di Waşīyatinşī Bihā 'Aw Daynin ۗ 'Ābā'uukum Wa 'Abnā'uukum Lā Tadrūna 'Ayyuhum 'Aqrabu Lakum Naf`āan ۚ Farīđatan Mina Allāhi ۗ 'Inna Allāha Kāna `Alīmāan Ĥakīmāan 004-011 Allah memerintahkan kalian, dalam urusan warisan anak-anak dan kedua orangtua kalian bila kalian meninggal dunia, untuk melakukan sesuatu yang bisa mewujudkan keadilan dan perbaikan. Apabila anak yang ditinggalkan terdiri atas laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Apabila semua anaknya perempuan, dan lebih dari dua orang, maka mereka mendapat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Secara tersirat, ayat ini bisa dipahami bahwa bila jumlah anak perempuan itu hanya dua orang, bagian mereka sama dengan bila mereka berjumlah lebih dari dua orang. Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta yang ditinggalkan. Apabila si mayit meninggalkan bapak dan ibu, maka bagian masing-masing seperenam, jika ia mempunyai anak, laki- laki atau perempuan. Tetapi bila ia tidak mempunyai anak, dan yang mewarisi hanya ibu dan bapak saja, maka bagian ibu adalah sepertiga dan sisanya menjadi bagian bapak. Jika mayit itu mempunyai saudara, maka ibunya menerima seperenam, dan sisanya menjadi bagian bapak, tanpa ada bagian untuk saudara- saudaranya. Bagian-bagian ini diberikan kepada yang berhak setelah dibayar utang-utangnya dan telah dilaksanakan apa yang diwasiatkan, selama dalam batasan syariat. Inilah hukum Allah yang adil dan mengandung kebijaksanaan. Kalian tidak mengetahui siapa di antara bapak dan anak kalian yang lebih banyak manfaatnya bagi kalian. Sesungguhnya kebaikan ada pada perintah Allah. Allah Maha Mengetahui maslahat kalian dan Mahabijaksana pada apa-apa yang diwajibkan kepada kalian. ‍ ‍ ‌‌‌ ۖ‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍ۚ‍‍‌‌‌ ‍ ‍‍‍ ‍ ‌ ‌ ‍ ۖ ‌‌‌ ‌‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ۚ‍ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍‌ ‍ ‌‌‍‍ ‌‌ۚ ‍‌‌ ‌‌~‍‍‌ ۚ‍‍ ~‍‌ۚ ‍‌ ‌ ‌‍‍ ‍‌ ‌‌‌ ‌‍‌ۗ ‌‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌ ‌‍‍‍‍ۚ‍‍ ۗ ‍ ‍‍‍
Wa Lakum Nişfu Mā Taraka 'Azwājukum 'In Lam Yakun Lahunna Waladun ۚ Fa'in Kāna Lahunna Waladun Falakumu Ar-Rubu`u Mimmā Tarakna ۚ Min Ba`di Waşīyatinşīna Bihā 'Aw Daynin ۚ Wa Lahunna Ar-Rubu`u Mimmā Taraktum 'In Lam Yakun Lakum Waladun ۚ Fa'in Kāna Lakum Waladun Falahunna Ath-Thumunu Mimmā Taraktum ۚ Min Ba`di Waşīyatinşūna Bihā 'Aw Daynin ۗ Wa 'In Kāna Rajulunrathu Kalālatan 'Aw Amra'atun Wa Lahu~ 'Akhun 'Aw 'Ukhtun Falikulli Wāĥidin Minhumā As-Sudusu ۚ Fa'in Kānū 'Akthara Min Dhālika Fahum Shurakā'u Fī Ath-Thuluthi ۚ Min Ba`di Waşīyatinşá Bihā 'Aw Daynin Ghayra Muđārrin ۚ Waşīyatan Mina Allāhi Wa ۗ Allāhu `Alīmun Ĥalīmun 004-012 Suami mendapatkan separuh dari harta yang ditinggalkan oleh istri, jika si istri tidak mempunyai anak darinya atau dari suami yang lain. Jika sang istri mempunyai anak, maka suami mendapatkan seperempat dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau sesudah utangnya dibayar. Istri--satu atau lebih--memperoleh seperempat harta yang ditinggalkan suami, jika suami tidak mempunyai anak dari istri yang ditinggalkan atau dari istri yang lain. Jika si suami mempunyai anak dari istri itu atau dari istri yang lain, maka si istri menerima seperdelapan dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat atau sesudah dibayar utang-utangnya. Bagian cucu sama dengan bagian anak seperti di atas. Jika si pewaris itu, baik laki-laki maupun perempuan, tidak meninggalkan ayah dan anak tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau perempuan seibu, maka masing-masing mendapat seperenam dari harta yang ditinggalkan. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama menerima sepertiga dari harta yang ditinggalkan, sesudah utang-utangnya dibayar atau setelah dilaksanakan wasiat yang tidak mendatangkan mudarat bagi ahli waris, yaitu yang tidak melampaui sepertiga dari harta yang ditinggalkan setelah melunasi utang. Laksanakanlah, wahai orang-orang yang beriman, apa-apa yang diwasiatkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat adil dan zalim di antara kalian dan Maha Panyabar, tidak menyegerakan hukuman bagi yang melanggar. ‍‍‍ ‌ ‍ ‌‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌ۚ‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍‌ ‍ ۚ ‍‌ ‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌‌ ‌ۚ ‌‍ ‍ ‍‍‍‍‌ ‍ ‌‌ ‍‌ ‌‌ۚ‍‍ ‌‌‌ ‍ ‍ ‍‍‍‍‌ ‍ ۚ ‍‌ ‌ ‌‍‍‌‌ ‌‌‌ ‌ۗ ‌‌‌‍‍ ‌‍‌ ‌‍ ‌‌‌ ‌ ‌~ ‌‍ ‌‌‌ ‌‍‍‌‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ۚ‌ ‌‍‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌‌ ۚ ‍‌ ‌ ‌‍‍‌ ‍‌ ‌‌‌ ‌‍‍‌ ‍‍‍ۚ ‌‍ ۗ‍‍‍
Tilka Ĥudūdu Allāhi ۚ Wa Man Yuţi`i Allāha Wa Rasūlahu Yudkhilhu Jannātin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru Khālidīna Fīhā ۚ Wa Dhalika Al-Fawzu Al-`Ažīmu 004-013 Hukum-hukum yang telah disebutkan tentang warisan itu merupakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah kepada hamba-Nya agar dikerjakan dan tidak dilanggar. Barangsiapa taat kepada hukum- hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ganjarannya adalah surga yang dialiri sungai-sungai. Mereka akan kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar(1). (1) Sistem pembagian warisan yang telah dijelaskan al-Qur'n merupakan aturan yang paling adil dalam semua perundang-undangan di dunia. Hal itu diakui oleh seluruh pakar hukum di Eropa. Ini merupakan bukti bahwa al-Qur'n adalah benar-benar datang dari Allah, sebab saat itu belum ada sistem hukum yang mengatur hal-hal seperti itu, termasuk dalam sistem hukum Romawi, Persia atau sistem hukum yang ada sebelumnya. Secara garis besar, keadilan sistem tersebut terangkum dalam hal-hal berikut. Pertama, hukum waris ditetapkan oleh syariat, bukan oleh pemilik harta, tanpa mengabaikan keinginannya. Pemilik harta berhak menetapkan wasiat yang baik sepertiga dari harta peninggalan sebagai pengganti dari ketentuan-ketentuan agama yang belum dilaksanakan seperti mengeluarkan zakat, atau pemberian kepada mereka yang membutuhkan selain yang berhak menerima bagian. Wasiat tidak boleh dilaksanakan bila bermotifkan maksiat atau mendorong berlanjutnya maksiat. Syariat menentukan sepertiga dari harta yang ditinggalkan, bila ada wasiat. Bila tidak, seluruh harta dibagikan kepada yang berhak menerima. Bisa juga di bawah sepertiga, dan selebihnya dibagikan sesuai dengan ketentuan syariat. Kedua, harta waris dua pertiga yang diatur oleh Allah, diberikan kepada kerabat yang terdekat, tanpa membedakan antara kecil dan besar. Anak-anak mendapatkan bagian lebih banyak dari yang lainnya karena mereka merupakan pelanjut orang yang meninggal yang pada umumnya masih lemah. Meskipun demikian, selain mereka, masih ada lagi yang berhak menerima warisan seperti ibu, nenek, bapak, kakek, walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit. Ketiga, dalam pembagian warisan juga diperhatikan sisi kebutuhan. Atas dasar pertimbangan itu, bagian anak menjadi lebih besar. Sebab, kebutuhan mereka itu lebih besar dan mereka masih akan menghadapi masa hidup lebih panjang. Pertimbangan kebutuhan itu pulalah yang menyebabkan bagian wanita separuh dari bagian laki-laki. Sebab, kebutuhan laki-laki terhadap harta lebih besar, seperti tuntutan memberi nafkah kepada anak dan istri. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia di mana wanita mempunyai tanggung jawab mengatur rumah dan mengasuh anak. Sedangkan laki-laki bekerja mencari nafkah di luar rumah dan menyediakan anggaran kebutuhan rumah tangga. Maka, dengan demikian, keadilan diukur sesuai dengan kebutuhan. Merupakan sikap yang tidak adil apabila keduanya diperlakukan secara sama, sementara tuntutan kebutuhan masing-masing berbeda. Keempat, dasar ketentuan syariat Islam dalam pembagian harta waris adalah distribusi, bukan monopoli. Maka, harta warisan tidak hanya dibagikan kepada anak sulung saja, atau laki-laki saja, atau anak-anak mayit saja. Kerabat yang lain seperti orang tua, saudara, paman, juga berhak. Bahkan hak waris juga bisa merata dalam satu kabilah, meskipun dalam prakteknya diutamakan dari yang terdekat. Jarang sekali terjadi warisan dimonopoli oleh satu orang saja. Kelima, wanita tidak dilarang menerima warisan seperti pada bangsa Arab dahulu. Wanita juga berhak menerima. Dengan begitu berarti Islam menghormati wanita dan memberikan hak-haknya secara penuh. Lebih dari itu Islam juga memberikan bagian warisan kepada kerabat pihak wanita seperti saudara laki-laki dan perempuan dari ibu. Ini juga berarti sebuah penghargaan terhadap kaum wanita yang belum pernah terjadi sebelum Islam. ‍‍‌‌‌ ۚ ‌‍‌‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ۚ ‌‌ ‌‌ ‍‍
Wa Man Ya`şi Allāha Wa Rasūlahu Wa Yata`adda Ĥudūdahu Yudkhilhu Nāan Khālidāan Fīhā Wa Lahu `Adhābun Muhīnun 004-014 Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, maka neraka merupakan ganjaran baginya dan ia kekal di dalamnya. Tubuhnya akan disiksa dengan api. Bagitu pula jiwanya akan menderita karena siksa yang pedih. ‍‌ ‍ ‌‌‍ ‌‌ ‌‌‍‍‍ ‌‌‌ ‍‌‌‌ ‌ ‌‍ ‍‍‌
Wa Al-Lātī Ya'tīna Al-Fāĥishata Min Nisā'ikum Fāstash/hidū `Alayhinna 'Arba`atan Minkum ۖ Fa'in Shahidū Fa'amsikūhunna Fī Al-Buyūti Ĥattá Yatawaffāhunna Al-Mawtu 'Aw Yaj`ala Allāhu Lahunna Sabīlāan 004-015 Bagi wanita yang melakukan zina, bila dipersaksikan oleh empat orang saksi yang adil, harus dikurung dalam rumah untuk menjaga dan menghindari kerusakan dan kejahatan, sampai datang ajalnya atau sampai Allah membuka jalan kehidupan yang lurus dengan cara perkawinan atau tobat. ‌ ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‌ ‍ ‌‌ ‌ ‍‌‍‍ۖ‌ ‍ ‍‍ ‌ ‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‍
Wa Al-Ladhāni Ya'tiyānihā Minkum Fa'ādhūhumā ۖ Fa'in Tābā Wa 'Aşlaĥā Fa'a`riđū `Anhumā ۗ 'Inna Allāha Kāna Tawwābāan Raĥīmāan 004-016 Laki-laki dan wanita yang melakukan zina tanpa ada ikatan pernikahan, keduanya dikenai hukuman yang sudah ditentukan. Hal itu apabila disaksikan oleh empat orang saksi yang adil. Jika, setelah dikenai hukuman, mereka bertobat, maka janganlah kalian sebut-sebut perbuatan mereka dan jangan pula kalian hina. Sesungguhnya Allah, dengan kasih sayang-Nya, akan menerima pertobatan orang-orang yang bertobat. ‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‌ ۖ ‌ ‌‌‍‍‌ ‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍ۗ ‍ ‍‍‍‌ ‌‍
'Innamā At-Tawbatu `Alá Allāhi Lilladhīna Ya`malūna As-Sū'a Bijahālatin Thumma Yatūbūna Min Qarībin Fa'ūlā'ika Yatūbu Allāhu `Alayhim ۗ Wa Kāna Allāhu `Alīmāan Ĥakīmāan 004-017 Sesungguhnya pertobatan akan dijamin oleh Allah bagi mereka yang melakukan kejahatan dalam keadaan tidak tahu lantaran bodoh atau tidak sadar, lalu segera bertobat sebelum datang ajalnya. Pertobatan mereka akan diterima oleh Allah Swt. Allah Maha Mengetahui kesungguhan tobat lagi Mahabijaksana, tidak pernah salah dalam menentukan. ‍‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍‍‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ۗ ‌‍‍‍ ‍ ‌
Wa Laysati At-Tawbatu Lilladhīna Ya`malūna As-Sayyi'āti Ĥattá 'Idhā Ĥađara 'Aĥadahumu Al-Mawtu Qāla 'Innī Tubtu Al-'Āna Wa Lā Al-Ladhīna Yamūtūna Wa Hum Kuffārun ۚ 'Ūlā'ika 'A`tadnā Lahum `Adhābāan 'Alīmāan 004-018 Pertobatan tidak akan diterima dari orang-orang yang berbuat dosa kemudian tidak segera menyesali perbuatannya, hingga, ketika ajalnya tiba, mereka berkata, "Sekarang aku menyatakan penyesalan dan pertobatan." Begitu juga pertobatan mereka yang mati dalam keadaan kafir. Allah telah menyediakan untuk kedua golongan ini siksaan yang pedih di hari pembalasan. ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍ ‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌‌ ۚ‍‍‌‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ‌
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Yaĥillu Lakum 'An Tarithū An-Nisā' Karhāan ۖ Wa Lā Ta`đulūhunna Litadh/habū Biba`đi Mā 'Ātaytumūhunna 'Illā 'An Ya'tīna Bifāĥishatin Mubayyinatin ۚ Wa `Āshirūhunna Bil-Ma`rūfi ۚ Fa'in Karihtumūhunna Fa`asá 'An TakraShay'āan Wa Yaj`ala Allāhu Fīhi Khayan Kathīrāan 004-019 Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak diperkenankan memperlakukan wanita seperti barang pusaka yang kalian warisi sebagai istri tanpa mahar, sedang mereka dalam keadaan terpaksa. Jangan merugikan mereka dengan menekan agar tidak mengambil mahar. Jangan memaksa mereka mengembalikan harta yang telah kalian berikan kecuali bila mereka jelas-jelas berbuat dosa seperti berselingkuh atau berperilaku buruk. Kalian boleh menekan atau mengambil sebagian apa yang telah diberikan kepada mereka ketika bercerai. Hendaknya kalian, hai orang-orang yang beriman, mempergauli istri dengan ucapan dan tindakan yang baik. Apabila kalian tidak menyukai mereka karena cacat fisik, cacat moral atau lainnya, maka bersabarlah dan jangan tergesa-gesa menceraikan mereka. Sebab, bisa jadi dalam sesuatu yang tidak kalian senangi, Allah memberikan kebaikan yang banyak. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌‌‍‍‍‍‌‌ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ‌‍ ‌‌ ‌‌‍‍‍ۚ ‌‌‍‍‍‌ ۚ‌ ‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌‌‌ ‍
Wa 'In 'Aradtumu Astibdāla Zawjin Makāna Zawjin Wa 'Ātaytum 'Iĥdāhunna Qinţāan Falā Ta'khudhū Minhu Shay'āan ۚ 'Ata'khudhūnahu Buhtānāan Wa 'Ithmāan Mubīnāan 004-020 Jika kalian ingin mengganti istri dengan wanita lain, sementara kalian telah memberikan banyak harta kepada salah satunya, maka kalian tidak diperkenankan mengambil sedikit pun dari harta itu. Apakah kalian akan mengambilnya secara tidak benar dan dalam bentuk dosa yang nyata? ‌‌ ‌‌‍ ‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‌‍ ‍‌‍‍‍‍‍‌‌‌‌ ‌ ‍‍‌‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ۚ ‌‍‍‌‍ ‌ ‌‌
Wa Kayfa Ta'khudhūnahu Wa Qad 'Afđá Ba`đukum 'Ilá Ba`đin Wa 'Akhadhna Minkumthāqāan Ghalīžāan 004-021 Bagaimana kalian sampai hati mengambil kembali mahar yang telah kalian berikan, padahal kalian telah saling bergaul sebagai suami istri, dan istri-istri kalian telah berjanji dengan teguh dan secara sah untuk menjadi pasangan suami yang baik. ‍‍‍ ‍‍‌‍ ‌‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍
Wa Lā Tankiĥū Mā Nakaĥa 'Ābā'uukum Mina An-Nisā' 'Illā Mā Qad Salafa ۚ 'Innahu Kāna Fāĥishatan Wa Maqtāan Wa Sā'a Sabīlāan 004-022 Janganlah mengawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayah kalian. Hal itu merupakan perbuatan keji dan buruk yang dimurkai Allah dan manusia. Itulah jalan dan tujuan yang paling jelek. Walaupun demikian, Allah tetap akan memaafkan apa yang telah lampau di zaman jahiliah(1). (1) Bangsa Arab jahiliah mempunyai tradisi yang menempatkan wanita pada posisi yang rendah. Apabila seorang bapak meninggal dunia dan meninggalkan anak laki-laki dan istri lain selain ibunya, maka anak laki-laki harus mengawini janda ayahnya itu tanpa akad nikah baru. Seorang istri yang sudah digauli suami kemudian dijatuhi talak, berkewajiban mengembalikan maskawin yang pernah diterimanya. Lebih dari itu, di antara orang-orang Arab jahiliah ada yang melarang dengan semena-mena istri yang ditinggalkan bapaknya untuk kawin kecuali dengan dirinya. Setelah Islam datang, semua perilaku tersebut dihilangkan. Al-Qur'n menyebut perbuatan-perbuatan tersebut dengan kata "maqt" yang sering diartikan sebagai 'kemurkaan', karena semua itu merupakan hal yang sangat jelek yang dimurkai Allah dan orang-orang yang berakal sehat. Di situlah letak keadilan Allah. ‌ ‍‌‍‍‌ ‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌ ۚ‍‍ ‌ ‌‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌‌
Ĥurrimat `Alaykum 'Ummahātukum Wa Banātukum Wa 'Akhawātukum Wa `Ammātukum Wa Khālātukum Wa Banātu Al-'Akhi Wa Banātu Al-'Ukhti Wa 'Ummahātukumu Al-Lātī 'Arđa`nakum Wa 'Akhawātukum Mina Ar-Rađā`ati Wa 'Ummahātu Nisā'ikum Wa Rabā'ibukumu Al-Lātī Fī Ĥujūrikum Min Nisā'ikumu Al-Lātī Dakhaltum Bihinna Fa'in Lam Takūnū Dakhaltum Bihinna Falā Junāĥa `Alaykum Wa Ĥalā'ilu 'Abnā'ikumu Al-Ladhīna Min 'Aşlābikum Wa 'An Tajma`ū Bayna Al-'Ukhtayni 'Illā Mā Qad Salafa ۗ 'Inna Allāha Kāna Ghafūan Raĥīmāan 004-023 Kalian diharamkan mengawini ibu, anak perempuan, saudara perempuan, saudara perempuan bapak, saudara perempuan ibu, anak perempuan dari saudara perempuan, ibu susu, saudara perempuan sepersusuan dan ibu istri (mertua). (1) Selain itu, kalian juga diharamkan mengawini anak tiri perempuan dari istri yang sudah kalian gauli, dan istri anak kandung (menantu) serta menghimpun dalam perkawinan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terlanjur terjadi sejak zaman jahiliah. Untuk yang satu ini, Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas segala yang telah lampau sebelum aturan ini datang dan sangat menyayangi kalian setiap kali Dia menetapkan ketentuan hukum. (1) Syariat Islam memiliki kelebihan dibandingkan dengan syariat lainnya ketika melarang perkawinan karena hubungan persusuan. Seorang anak yang disusui mengambil makanan dari tubuh ibu yang menyusuinya, seperti memakan makanan dari tubuh ibu ketika masih berada di dalam kandungan. Keduanya sama, merupakan bagian dari darah daging. Wanita yang menyusui haram dikawini karena posisinya sama dengan ibu. Di sini terdapat motifasi untuk menyusui anak, karena susu ibu merupakan makanan alami bagi bayi. Sebelum ilmu genetika ditemukan, ayat ini sejak dini telah mengungkapkan larangan menikah antarkerabat karib. Belakangan ini ditemukan secara ilmiah bahwa pernikahan seperti itu menyebabkan keturunan mudah terjangkit penyakit, cacat fisik, serta tingkat kesuburan yang rendah bahkan mendekati kemungkinan mandul. Namun, sebaliknya, perkawinan dengan orang yang tidak mempunyai hubungan kerabat tidak akan menghasilkan seperti itu. Keturunannya akan memiliki keunggulan dalam hal kepribadian, kelebihan secara fisik, daya tahan tubuh yang kuat, pertumbuhan yang cepat dan rendahnya angka kematian. ‍ ‌ ‌‌‍‍‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍ ‌‍‍‍ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌‍‍ ‌‌‍‍ ‌‌‍‍‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‍‌‍‍ ‍ ‌‍‍ ‍ ‌ ‌‍‍ ‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‌ ‌‍‍ ‌‌‌‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ۗ ‍ ‍‍‍ ‍‌‌‌ ‌‍
Wa Al-Muĥşanātu Mina An-Nisā' 'Illā Mā Malakat 'Aymānukum ۖ Kitāba Allāhi `Alaykum ۚ Wa 'Uĥilla Lakum Mā Warā'a Dhālikum 'An Tabtaghū Bi'amwālikum Muĥşinīna Ghayra Musāfiĥīna ۚ Famā Astamta`tum Bihi Minhunna Fa'ātūhunna 'Ujūrahunna Farīđatan ۚ Wa Lā Junāĥa `Alaykum Fīmā Tađaytum Bihi Min Ba`di Al-Farīđati ۚ 'Inna Allāha Kāna `Alīmāan Ĥakīmāan 004-024 Kalian juga diharamkan menikah dengan wanita yang bersuami, baik wanita merdeka maupun budak, kecuali wanita-wanita tawanan dari hasil perang antara kalian dan orang-orang kafir. Ikatan tali pernikahan mereka sebelumnya dengan sendirinya telah batal dan halal hukumnya untuk kalian kawini bila terbukti mereka tidak sedang hamil. Tepatilah apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk kalian yang berupa pelarangan hal-hal itu. Selain wanita-wanita yang diharamkan tadi, carilah wanita dengan harta kalian untuk dijadikan istri, bukan untuk maksud zina atau menjadikannya wanita simpanan. Semua wanita yang telah kalian gauli setelah pernikahan secara sah dengan yang halal dikawini, berilah mereka mahar yang telah kalian tentukan, sebagai kewajiban yang harus dibayar pada waktunya. Kalian semua tidak berdosa, selama telah ada kesepakatan secara suka rela antara suami dan istri, jika istri hendak melepas hak maharnya, atau jika suami hendak menambah jumlah maharnya. Sesungguhnya Allah selalu memantau urusan hamba-Nya, mengatur segala sesuatu yang membawa maslahat bagi mereka dengan bijaksana. ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‌ ‌ ۖ‍‍ ۚ ‌‌ ‌ ‌‌‍‍‌‌‌ ‌ ‌‌‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ۚ ‍‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍ ‌ ‍‍ ‍ ‍‌‍‍ۚ ‍ ‍‍‍
Wa Man Lam Yastaţi` Minkum Ţawlāan 'An Yankiĥa Al-Muĥşanāti Al-Mu'umināti Famin Mā Malakat 'Aymānukum Min Fatayātikumu Al-Mu'umināti Wa ۚ Allāhu 'A`lamu Bi'īmānikum ۚ Ba`đukum Min Ba`đin ۚnkiĥūhunna Bi'idhni 'Ahlihinna Wa 'Ātūhunna 'Ujūrahunna Bil-Ma`rūfi Muĥşanātin Ghayra Musāfiĥātin Wa Lā Muttakhidhāti 'Akhdānin ۚ Fa'idhā 'Uĥşinna Fa'in 'Atayna Bifāĥishatin Fa`alayhinna Nişfu Mā `Alá Al-Muĥşanāti Mina Al-`Adhābi ۚ Dhālika Liman Khashiya Al-`Anata Minkum ۚ Wa 'An Taşbirū Khayrun Lakum Wa ۗ Allāhu Ghafūrun Raĥīmun 004-025 Barangsiapa di antara kalian tidak mampu menikahi wanita merdeka yang beriman, maka ia boleh mengawini budak wanita beriman. Allah paling mengetahui hakikat keimanan dan keikhlasan kalian. Dan janganlah kalian segan untuk mengawini mereka karena, dalam pandangan agama, kalian dan mereka tidak berbeda. Kawinilah mereka dengan izin tuannya. Berilah mahar yang telah kalian tentukan sesuai dengan perjanjian yang kalian sepakati untuk bergaul dengan baik. Pilihlah wanita-wanita yang menjaga kehormatannya, bukan pezina dan bukan pula gundik. Jika setelah dinikahi mereka melakukan zina, maka hukuman mereka separuh hukuman wanita merdeka. Menikahi budak wanita dalam kondisi tidak mampu, diperbolehkan bagi orang yang khawatir akan mengalami kesulitan yang mengarah kepada perbuatan zina. Kesabaran kalian dalam menikahi budak wanita yang selalu menjaga kehormatan adalah lebih baik. Ampunan Allah amat luas dan kasih sayang-Nya amat besar. ‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‌ ‍‍ ۚۚ‍‍‍ ‍‌ۚ‍‍ ‌ ‌‍ ‌‌‍ ‌‌‍‍‍‌‍‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍‌ۚ‌ ‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ۚ ‌ ‍‌ ‍‌‍‍ۚ ‌‌‌‍‍‍‌‍‍ۗ ‍‍‍‍‌ ‌‍
Yurīdu Allāhu Liyubayyina Lakum Wa Yahdiyakum Sunana Al-Ladhīna Min Qablikum Wa Yatūba `Alaykum Wa ۗ Allāhu `Alīmun Ĥakīmun 004-026 Allah ingin menjelaskan kepada kalian jalan yang paling benar. Sedang orang-orang kafir, yang selalu berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsu, sebelum kalian, dan mengembalikan kalian untuk taat kepada- Nya. Allah Maha mengetahui segala urusan kalian dan Mahabijaksana dalam menetapkan hukum-hukum yang sesuai dengan keadaan kalian. (1) (1) Dalam tafsir edisi bahasa Arab pada ayat ini terdapat kesalahan cetak yang dapat mengaburkan pemahaman. Menurut hemat kami, kalimat "Sedang orang-orang kafir, yang selalu berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsu, sebelum kalian" semestinya tidak ada. Kalimat itu merupakan terjemahan ayat selanjutnya. Penafsiran yang mungkin lebih bisa dipahami adalah sebagai berikut: Allah ingin menjelaskan kepada kalian jalan yang paling benar, menunjukkan kalian ketentuan-ketentuan yang telah diberlakukan kepada orang-orang sebelum kalian, dan mengembalikan kalian untuk taat kepada-Nya. Allah Maha Mengetahui segala urusan kalian dan Mahabijaksana dalam menetapkan hukum-hukum yang sesuai dengan keadaan kalian. Wa Allh a'lam bi al-shawb. ‍‍‍‍‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‍‍‍ ۗ‍‍‍
Wa Allāhu Yurīdu 'An Yatūba `Alaykum Wa Yurīdu Al-Ladhīna Yattabi`ūna Ash-Shahawāti 'An Tamīlū Maylāan `Ažīmāan 004-027 Allah menghendaki kalian untuk bertobat dan kembali menaati-Nya. Orang-orang kafir, yang selalu berbuat maksiat dan mengikuti hawa nafsu, menghendaki kalian agar menjauh dari jalan yang benar sejauh-jauhnya. ‍ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌‍‍ ‌‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‍‍‌ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍
Yurīdu Allāhu 'An Yukhaffifa `Ankum ۚ Wa Khuliqa Al-'Insānu Đa`īfāan 004-028 Allah hendak memberikan keringanan melalui syariat dan ketentuan-ketentuan yang mudah dan ringan. Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan lemah dalam menghadapi segala macam kecenderungan batin. Maka, sangatlah sesuai jika beban-beban yang diberikan kepadanya mengandung unsur kemudahan dan keluasan. Itulah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sebagai karunia dan kemudahan. ‍‍‍‍‌ ‍ ‌‌‍‍‍ ‍‌‍‍ۚ ‌‍‍‍ ‍‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Ta'kulū 'Amwālakum Baynakum Bil-Bāţili 'Illā 'An Takūna Tijāratan `An Tađin Minkum ۚ Wa Lā Taqtulū 'Anfusakum ۚ 'Inna Allāha Kāna Bikum Raĥīmāan 004-029 Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar. Kalian diperbolehkan melakukan perniagaan yang berlaku secara suka sama suka. Jangan menjerumuskan diri kalian dengan melanggar perintah-perintah Tuhan. Jangan pula kalian membunuh orang lain, sebab kalian semua berasal dari satu nafs. Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‌ ‌‌ ‍‍ ‌‌ ‌‌‍‍ ‌‍ ‍‌‍‌‌ ‍‌‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌ۚ ‍ ‍‍‍ ‌‍
Wa Man Yaf`al Dhālika `Udwānāan Wa Žulmāan Fasawfa Nuşlīhi Nāan ۚ Wa Kāna Dhālika `Alá Allāhi Yasīrāan 004-030 Barangsiapa melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah dengan memusuhi dan melanggar hak- Nya, maka ia akan Kami masukkan ke dalam api neraka yang membakar. Hal itu adalah mudah bagi Allah. ‍‌ ‌ ‍‌‌‌ ‌‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ۚ ‌‍‍‍ ‌ ‌ ‍ ‍
'In Tajtanibū Kabā'ira Mā Tunhawna `Anhu Nukaffir `Ankum Sayyi'ātikum Wa Nudkhilkum Mudkhalāan Karīmāan 004-031 Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang oleh Allah, maka Kami akan menghapus dosa-dosa kecil, selama kalian selalu berusaha untuk tetap istikamah. Akan Kami tempatkan kalian di dunia dan di akhirat, di tempat yang penuh kebaikan dan kemuliaan. ‍‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌‌ ‍
Wa Lā Tatamannaw Mā Fađđala Allāhu Bihi Ba`đakum `Alá Ba`đin ۚ Lilrrijāli Naşībun Mimmā Aktasabū ۖ Wa Lilnnisā'i Naşībun Mimmā Aktasabna ۚ Wa As'alū Allaha Min Fađlihi~ ۗ 'Inna Allāha Kāna Bikulli Shay'in `Alīmāan 004-032 Laki-laki hendaknya tidak iri hati terhadap karunia yang diberikan Allah kepada wanita. Begitu juga, sebaliknya, wanita tidak boleh iri hati terhadap apa-apa yang dikaruniakan Allah kepada laki-laki. Masing- masing mendapatkan bagian, sesuai dengan tabiat perbuatan dan haknya. Maka hendaknya masing-masing berharap agar karunianya ditambah oleh Allah dengan mengembangkan bakat dan memanfaatkan kelebihan yang dititipkan Allah kepadanya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan memberikan kepada setiap jenis makhluk sesuatu yang sesuai dengan kejadiannya. ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ۚ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ۖ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍ۚ‍ ‍‌‍‍ۗ ‍ ‍‍‍
Wa Likullin Ja`alnā Mawāliya Mimmā Taraka Al-Wālidāni Wa Al-'Aqrabūna Wa ۚ Al-Ladhīna `Aqadat 'Aymānukum Fa'ātūhum Naşībahum ۚ 'Inna Allāha Kāna `Alá Kulli Shay'in Shahīdāan 004-033 Bagi setiap laki-laki dan perempuan, Kami jadikan pewaris yang berhak menerima harta peninggalan dan menjadi penerus mereka. Mereka adalah kedua orangtua, kerabat, dan orang-orang yang telah dijanjikan oleh si mayit akan diberi warisan dari selain jalur kerabat, sebagai imbalan atas pertolongan yang harus mereka berikan bila diminta. Berilah hak mereka dan jangan menguranginya. Sesungguhnya Allah mengawasi segala sesuatu dan selalu hadir menyaksikan segala yang kalian perbuat. ‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‍ ‍‍‌‍‍‍‍‍‍ ۚ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ۚ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‌ ‌
Ar-Rijālu Qawwāmūna `Alá An-Nisā' Bimā Fađđala Allāhu Ba`đahum `Alá Ba`đin Wa Bimā 'Anfaqū Min 'Amwālihim ۚ Fālşşāliĥātu Qānitātun Ĥāfižātun Lilghaybi Bimā Ĥafiža Allāhu Wa ۚ Al-Lātī Takhāfūna Nushūzahunna Fa`ižūhunna Wa Ahjurūhunna Fī Al-Mađāji`i Wa Ađribūhunna ۖ Fa'in 'Aţa`nakum Falā Tabghū `Alayhinna Sabīlāan ۗ 'Inna Allāha Kāna `Alīyāan Kabīrāan 004-034 Suami memiliki hak memelihara, melindungi dan menangani urusan istri, karena sifat-sifat pemberian Allah yang memungkinkan mereka melakukan hal-hal yang ia lakukan itu, dan kerja keras yang ia lakukan untuk membiayai keluarga. Oleh karena itu, yang disebut sebagai istri yang salehah adalah istri yang taat kepada Allah dan suami, dan menjaga segala sesuatu yang tidak diketahui langsung oleh suami. Karena, memang, Allah telah memerintahkan dan menunjukkan istri untuk melakukan hal itu. Kepada istri yang menampakkan tanda-tanda ketidakpatuhan, berilah nasihat dengan perkataan yang menyentuh, jauhi ia di tempat tidur, kemudian beri hukuman berupa pukulan ringan yang tidak melukai, ketika ia tidak menampakkan perbaikan. Jika dengan salah satu cara itu ia sadar dan kembali mematuhi suami, maka suami tidak boleh menempuh cara lain yang lebih kejam dengan maksud menyakiti dan menganiaya istri. Allah sungguh lebih mampu--untuk melakukan itu--dan membalas suami, jika suami terus menyakiti dan menganiaya istri. ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ‌‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‌ ‌‌ ۚ ‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍ ۚ‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‌‍ ‍‍‍ ‌ ۖ ‌‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍ۗ ‍ ‍‍‍‌ ‍
Wa 'In Khiftum Shiqāqa Baynihimā Fāb`athū Ĥakamāan Min 'Ahlihi Wa Ĥakamāan Min 'Ahlihā 'In Yurīdā 'Işlāĥāan Yuwaffiqi Allāhu Baynahumā ۗ 'Inna Allāha Kāna `Alīmāan Khabīrāan 004-035 Jika terjadi perselisihan di antara sepasang suami-istri, dan kalian khawatir perselisihan itu akan berakhir dengan perceraian, tentukanlah dua orang penengah: yang pertama dari pihak keluarga suami, dan yang kedua dari pihak keluarga istri. Kalau pasangan suami-istri itu benar-benar menginginkan kebaikan, Allah pasti akan memberikan jalan kepada keadaan yang lebih baik, baik berupa keharmonisan rumah tangga maupun perceraian secara baik-baik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perbuatan lahir dan batin hamba-hamba-Nya. ‌‌ ‍ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍‌ ‍‌ ‌‍‌ ‌‌‌ ‌‌ ‍ ‍ ‍ۗ ‍ ‍‍‍‍‍
Wa A`budū Allaha Wa Lā Tushrikū Bihi Shay'āan ۖ Wa Bil-Wālidayni 'Iĥsānāan Wa Bidhī Al-Qurbá Wa Al-Yatāmá Wa Al-Masākīni Wa Al-Jāri Dhī Al-Qurbá Wa Al-Jāri Al-Junubi Wa Aş-Şāĥibi Bil-Janbi Wa Abni As-Sabīli Wa Mā Malakat 'Aymānukum ۗ 'Inna Allāha Lā Yuĥibbu Man Kāna Mukhtālāan Fakhūan 004-036 Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan janganlah menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal-hal ketuhanan dan peribadatan. Berbuat baiklah kepada orangtuamu tanpa kelalaian. Juga kepada sanak keluarga, anak yatim, orang-orang yang memerlukan bantuan karena ketidakmampuan atau karena tertimpa bencana, tetangga dekat, baik ada hubungan keluarga maupun tidak, teman dekat seperjalanan, sepekerjaan atau sepergaulan, orang musafir yang membutuhkan bantuan karena tidak menetap di suatu negeri tertentu, dan budak laki-laki atau perempuan yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri kepada sesama, yaitu orang yang tidak memiliki rasa belas kasih dan orang yang selalu memuji diri sendiri. ‌‌‍ ‌‌ ‍‌ ‍‍‍ۖ ‌‌‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ۗ ‍ ‌ ‍‌‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‌‌
Al-Ladhīna Yabkhalūna Wa Ya'murūna An-Nāsa Bil-Bukhli Wa Yaktumūna Mā 'Ātāhumu Allāhu Min Fađlihi ۗ Wa 'A`tadnā Lilkāfirīna `Adhābāan Muhīnāan 004-037 Mereka adalah orang-orang yang, di samping sombong dan membanggakan diri, kikir dengan hartanya, menjauhi sesama manusia, dan mengajak orang lain untuk berbuat kikir seperti mereka. Mereka menganggap kecil karunia yang telah diberikan Allah kepadanya, suatu anggapan yang tidak ada manfaatnya sama sekali bagi mereka dan juga bagi orang lain. Bagi orang-orang yang mengingkari nikmat seperti mereka, Kami sediakan siksa yang menyakitkan dan merendahkan. ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‌ ‍ ‍‌‍‍‍‍ ۗ ‌‌‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌
Wa Al-Ladhīna Yunfiqūna 'Amwālahum Ri'ā'a An-Nāsi Wa Lā Yu'uminūna Billāhi Wa Lā Bil-Yawmi Al-'Ākhiri ۗ Wa Man Yakuni Ash-Shayţānu Lahu Qarīnāan Fasā'a Qarīnāan 004-038 Allah tidak menyukai orang yang mengeluarkan hartanya secara riy'(1) dengan tujuan agar dipuji dan dibanggakan orang lain. Padahal mereka tidak beriman kepada Allah dan hari pembalasan, karena mereka mengikuti setan lalu disesatkan. Alangkah buruknya setan bagi orang yang berteman dengannya! (1) y' berarti melakukan sesuatu dengan motif ingin dilihat dan dipuji orang lain, bukan ikhlas karena Allah. ‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍ ‍‍‍‌ ۗ ‌‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌‌
Wa Mādhā `Alayhim Law 'Āmanū Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri Wa 'Anfaqū Mimmā Razaqahumu Allāhu ۚ Wa Kāna Allāhu Bihim `Alīmāan 004-039 Alangkah buruknya mereka itu! Apakah yang akan merugikan mereka kalau mereka mau beriman kepada Allah dan hari akhir, lalu menginfakkan harta yang dikaruniakan Allah kepadanya sebagai konsekwensi keimanan itu dengan niat ikhlas dan penuh pengharapan pahala? Allah Mahatahu atas segala persoalan batin dan lahir. ‌‌‌ ‌ ‌‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‌‍ۚ ‌‍‍‍
'Inna Allāha Lā Yažlimu Mithqāla Dharratin ۖ Wa 'In Taku Ĥasanatan Yuđā`ifhā Wa Yu'uti Min Ladunhu 'Ajan `Ažīmāan 004-040 Sesungguhnya Allah tidak akan berbuat curang kepada seseorang pun. Dia tidak akan mengurangi pahala atau menambahkan siksa seseorang. Bahkan akan melipatgandakan pahala orang-orang yang berbuat baik meskipun sedikit. Allah, dengan karunia-Nya, akan melimpahkan pemberian yang banyak. ‍ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌‌‍ۖ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‌‍ ‌‍‌‌ ‍‍‍
Fakayfa 'Idhā Ji'nā Min Kulli 'Ummatin Bishahīdin Wa Ji'nā Bika `Alá Hā'uulā' Shahīdāan 004-041 Bagaimanakah keadaan mereka yang kafir dan menentang apa yang diperintahkan Allah kepadanya, ketika Kami mendatangkan semua nabi sebagai saksi atas kaumnya pada hari kiamat, dan Kami mendatangkan kamu, wahai Muhammad, sebagai saksi atas kaummu yang di antaranya terdapat orang-orang yang menentang itu? ‍‍‍ ‌‌‌‌ ‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‌‌‌ ‌
Yawma'idhin Yawaddu Al-Ladhīna Kafarū Wa `Aşaw Ar-Rasūla Law Tusawwá Bihimu Al-'Arđu Wa Lā Yaktumūna Allāha Ĥadīthāan 004-042 Di hari itu orang-orang yang ingkar dan durhaka berharap ditelan bumi seperti orang-orang mati di dalam kubur. Mereka tidak akan bisa menyembunyikan hal ihwal mereka kepada Allah, karena Dia akan menampakkan segala keadaan dan perbuatan mereka. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍ ‌ ‌‌ ‌‍ ‌‌ ‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Taqra Aş-Şalāata Wa 'Antum Sukārá Ĥattá Ta`lamū Mā Taqūlūna Wa Lā Junubāan 'Illā `Ābirī Sabīlin Ĥattá Taghtasilū ۚ Wa 'In Kuntum Marđá 'Aw `Alá Safarin 'Aw Jā'a 'Aĥadun Minkum Mina Al-Ghā'iţi 'Aw Lāmastumu An-Nisā' Falam Tajidū Mā'an Fatayammamū Şa`īdāan Ţayyibāanmsaĥū Biwujūhikum Wa 'Aydīkum ۗ 'Inna Allāha Kāna `Afūwāan Ghafūan 004-043 Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melakukan salat di masjid dalam keadaan mabuk, sebelum kalian sadar dan mengerti apa yang kalian ucapkan. Jangan pula kalian memasuki masjid dalam keadaan junub, kecuali bila sekadar melintas tanpa maksud berdiam di dalamnya, sampai kalian menyucikan diri. Jika kalian sakit dan tidak mampu menggunakan air karena khawatir akan menambah parah penyakit, atau sedang bepergian dan sulit mendapatkan air, maka ambillah debu yang bersih untuk bertayamum. Begitu juga bila kalian kembali dari tempat buang hajat atau bersentuhan dengan perempuan, sedangkan kalian tidak mendapatkan air untuk bersuci, bertayamumlah dengan debu yang suci. Tepuklah debu itu dengan tangan kalian, lalu usapkan ke muka dan kedua tangan. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‍ ‌‍‌‌ ‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍ۚ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌‌‌ ‌ ‌ ‌‌‌ ‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‌‌‍‌‌ ‌‌ ۗ ‍ ‍‍‍ ‌‌ ‍‌‌
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhīna 'Ūtū Naşībāan Mina Al-Kitābi Yashtarūna Ađ-Đalālata Wa Yurīdūna 'An Tađillū As-Sabīla 004-044 Apakah kalian tidak merasa heran melihat orang-orang yang diturunkan kepada mereka bagian berupa kitab-kitab suci terdahulu? Mereka meninggalkan petunjuk Allah, mengikuti kesesatan dan menginginkan kalian menjauhi jalan kebenaran, yaitu jalan Allah yang lurus. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‌‌‍‍
Wa Allāhu 'A`lamu Bi'a`dā'ikum ۚ Wa Kafá Billāhi Walīyāan Wa Kafá Billāhi Naşīrāan 004-045 Allah lebih mengetahui musuh-musuh kalian yang sebenarnya daripada kalian sendiri. Dia pun lebih mengetahui apa yang ada dalam diri mereka. Allahlah yang akan melindungi kalian, dan cukuplah Dia sebagai penjaga kalian. Maka hendaknya kalian jangan mencari pertolongan selain pertolongan-Nya. Cukuplah Allah sebagai penolong kalian. ‍ ‌ ‍‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍ ‍‍‍‍‍
Mina Al-Ladhīna Hādū Yuĥarrifūna Al-Kalima `An Mawāđi`ihi Wa Yaqūlūna Sami`nā Wa `Aşaynā Wa Asma` Ghayra Musma`in Wa `inā Layyāan Bi'alsinatihim Wa Ţa`nāan Ad-Dīni ۚ Wa Law 'Annahum Qālū Sami`nā Wa 'Aţa`nā Wa Asma` Wa Anžurnā Lakāna Khayan Lahum Wa 'Aqwama Wa Lakin La`anahumu Allāhu Bikufrihim Falā Yu'uminūna 'Illā Qalīlāan 004-046 Di antara orang-orang Yahudi ada sekelompok orang yang cenderung mengubah-ubah perkataan dari makna sebenarnya. Mereka berkata kepada Nabi mengenai diri mereka, "Kami mendengar ucapan dan kami melanggar perintah." Mereka juga berkata, "Dengarlah ucapan kami," dengan mengarahkan pembicaraan kepadamu. Mereka mengatakan pula, "Isma' ghayra musma'" (dengarlah, semoga kamu tidak mendengar apa-apa). Ungkapan ini dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah mereka mengharapkan kebaikan kepada Nabi Muhammad saw. Padahal, sebenarnya, keburukanlah yang mereka harapkan menimpa Nabi. Mereka pun mengucapkan "R'in" (sudilah kiranya kamu memperhatikan kami) dengan cara memutar-mutar lidah. Mereka, dengan cara seperti itu, menginginkan orang lain menganggap maksudnya "undzurn" ("sudilah kiranya kamu memperhatikan kami") karena dengan memutar-mutar lidah ketika menyebut "r'in", seolah- olah mereka memang meminta agar diperhatikan. Padahal, sebenarnya, mereka tengah mencela agama dengan mencela Nabi saw., pembawa risalah, sebagai orang yang bodoh ("ru'nah": bentuk nomina abstrak [mashdar] dari verba [fi'l] ra'ana yang berarti 'kebodohan'). Jika saja mereka mau bersikap jujur dengan mengatakan "Sami'n wa atha'n" (kami dengar dan kami taati) sebagai pengganti tambahan "Sami'n wa 'ashayn" (kami dengar dan kami langgar), dan mengatakan "Isma'" tanpa tambahan "ghayr musma'", serta mengganti ucapan "R'in" dengan "unzhurn", tentulah itu lebih baik dan lebih bijaksana bagi mereka. Akan tetapi begitulah kenyataannya, Allah menjauhkan mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kemungkaran yang mereka lakukan. Dan kamu tidak mendapatkan mereka itu sebagai orang-orang yang memenuhi ajakanmu untuk beriman, kecuali sedikit saja. ‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍ ‍‌‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‌ ‌‌‍‌‌ ‌ ‌‍‍‌‍‍‍ۚ ‌‌ ‌‌ ‌ ‌‌‍‍‌ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‌ ‌‌‍‍‍ ‌‍‌ ‍ ‍ ‌ ‍‍‍ ‌‌
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Ūtū Al-Kitāba 'Āminū Bimā Nazzalnā Muşaddiqāan Limā Ma`akum Min Qabli 'An Naţmisa Wujūhāan Fanaruddahā `Alá 'Adrihā 'Aw Nal`anahum Kamā La`annā 'Aşĥāba As-Sabti ۚ Wa Kāna 'Amru Allāhi Maf`ūlāan 004-047 Hai orang-orang yang diberi kitab suci, berimanlah kalian kepada al-Qur'n yang telah Kami turunkan kepada Muhammad, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, sebelum Kami turunkan siksa untuk kalian yang membuat bentuk muka kalian terbalik menyerupai bagian belakang kepala, tanpa hidung, mata, dan alis, atau sebelum Kami kutuk kalian sebagaimana kutukan Kami atas mereka yang telah melanggar perintah untuk tidak menangkap ikan pada hari Sabtu. Ketetapan Allah pasti berlaku. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ۚ ‌‍‍‍ ‌‌
'Inna Allāha Lā Yaghfiru 'An Yushraka Bihi Wa Yaghfiru Mā Dūna Dhālika Liman Yashā'u ۚ Wa Man Yushrik Billāhi Faqadi Aftará 'Ithmāan `Ažīmāan 004-048 Sesungguhnya Allah tidak memberi ampunan dosa syirik dan memberi ampunan segala dosa selain syirik bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa besar yang tidak ada ampunannya. ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‌‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍‌‌ ۚ ‌‍‌‍ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhīna Yuzakkūna 'Anfusahum ۚ Bali Allāhu Yuzakkī Man Yashā'u Wa Lā Yužlamūna Fatīlāan 004-049 Janganlah kalian merasa heran melihat orang-orang kafir yang selalu mengada-ada dalam perbuatan mereka. Kami jelaskan buruknya perbuatan mereka, tetapi mereka malah menganggapnya baik. Mereka memuji diri sendiri dengan mengaku sebagai orang-orang suci. Hanya Allahlah yang mengetahui yang keji dan yang suci. Dia membersihkan jiwa siapa saja yang dikehendaki-Nya serta tidak menzalimi hak siapa pun, yang sangat sedikit sekalipun. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌‌ۚ ‍ ‍‌‍‍‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍
Anžur Kayfa Yaftarūna `Alá Allāhi Al-Kadhiba ۖ Wa Kafá Bihi~ 'Ithmāan Mubīnāan 004-050 Bagaimana mereka dapat mengada-ada kebohongan terhadap Allah dengan cara seperti itu? Cukuplah kebohongan itu menjadi dosa yang nyata, yang mengungkap segala keburukan yang mereka sembunyikan. ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ۖ ‌‌ ‌
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhīna 'Ūtū Naşībāan Mina Al-Kitābi Yu'uminūna Bil-Jibti Wa Aţ-Ţāghūti Wa Yaqūlūna Lilladhīna Kafarū Hā'uulā' 'Ahdá Mina Al-Ladhīna 'Āmanū Sabīlāan 004-051 Tidakkah kamu heran dengan perlakuan orang-orang yang diberi bagian dari ilmu kitab suci. Mereka dengan rela menyembah berhala dan setan, dan mengatakan kepada orang-orang yang menyembah berhala, "Sesungguhnya mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman." ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌
'Ūlā'ika Al-Ladhīna La`anahumu Allāhu ۖ Wa Man Yal`ani Allāhu Falan Tajida Lahu Naşīrāan 004-052 Mereka itulah orang-orang yang ditelantarkan Allah dan dijauhkan dari kasih sayang-Nya. Maka, barangsiapa yang ditelantarakan oleh Allah dan dijauhkan dari kasih sayang-Nya, niscaya ia tidak akan mendapatkan penolong dan pelindung dari murka Allah. ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍ۖ ‌‍‌ ‍ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍
'Am Lahum Naşībun Mina Al-Mulki Fa'idhāan Lā Yu'utūna An-Nāsa Naqīrāan 004-053 Selain tidak mendapatkan nikmat tunduk kepada kebenaran, mereka juga tidak layak memegang kekuasaan. Kalaupun diberi kekuasaan, hal itu tidak akan mendatangkan manfaat sedikit pun bagi orang lain. ‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍
'Am Yaĥsudūna An-Nāsa `Alá Mā 'Ātāhumu Allāhu Min Fađlihi ۖ Faqad 'Ātaynā 'Āla 'Ibhīma Al-Kitāba Wa Al-Ĥikmata Wa 'Ātaynāhum Mulkāan `Ažīmāan 004-054 Mengapa mereka selalu ingin melebihi bangsa Arab, agar Allah mengutus nabi dari kalangan mereka, padahal Allah telah memberikan kepada Ibrhm dan keluarganya, kitab, kenabian dan kerajaan yang besar. Dan Ibrhm adalah bapak kalian dan bapak mereka. ‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ‌ ‍ ‍‌‍‍‍‍ ۖ‍‍‌ ‌‍‌ ‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍
Faminhum Man 'Āmana Bihi Wa Minhum Man Şadda `Anhu ۚ Wa Kafá Bijahannama Sa`īrāan 004-055 Di antara mereka, pengikut Nabi Ibrhm, ada yang beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada mereka, dan ada juga yang tidak beriman kepadanya. Cukuplah neraka Jahanam yang sangat panas sebagai tempat bagi mereka yang menolak mengimani kebenaran. ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍ ‌‍‌‍‍‍ ‍‌ ‍‌ ‍‌‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍
'Inna Al-Ladhīna Kafarū Bi'āyātinā Sawfa Nuşlīhiman Kullamā Nađijat Julūduhum Baddalnāhum Julūdāan Ghayrahā Liyadhūqū Al-`Adhāba ۗ 'Inna Allāha Kāna `Azīzāan Ĥakīmāan 004-056 Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari bukti-bukti yang jelas dan mendustakan para nabi, kelak akan Kami masukkan ke dalam api neraka yang akan menghanguskan kulit mereka. Dan setiap kali rasa pedih akibat siksaan itu hilang, Allah menggantinya dengan kulit yang baru, agar rasa sakitnya berlanjut. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana. Dia akan memberikan siksaan bagi orang yang sampai saat kematiaannya tetap mengingkari-Nya(1). (1) Ayat ini merupakan bukti betapa dahsyatnya siksaan yang diderita oleh penghuni neraka. Sebuah temuan ilmiah membuktikan bahwa urat saraf yang tersebar dalam lapisan kulit merupakan yang paling sensitif terhadap pengaruh panas dan dingin. ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌‌‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌‌ ‍‍‌ ‌‍‍‌ ۗ ‍ ‍‍‍ ‌‌
Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti Sanudkhiluhum Jannātin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru Khālidīna Fīhā 'Abadāan ۖ Lahum Fīhā 'Azwājun Muţahharatun ۖ Wa Nudkhiluhum Žillā Žalīlāan 004-057 Orang-orang yang percaya kepada apa yang datang dari Tuhannya dan melakukan amal saleh, akan Kami karuniakan pahala atas keimanan dan perbuatan itu. Kami akan memasukkan mereka ke dalam surga yang dialiri berbagai sungai di bawah pepohonannya, dengan ditemani oleh istri-istri yang suci, tiada cela, serta Kami akan memberikan kepada mereka kehidupan yang teduh dan kenyamanan yang abadi. ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌ۖ‌ ‌‌‌‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍ۖ ‌‍‍‍‍‌
'Inna Allāha Ya'murukum 'An Tu'uaddū Al-'Amānāti 'Ilá 'Ahlihā Wa 'Idhā Ĥakamtum Bayna An-Nāsi 'An Taĥkumū Bil-`Adli ۚ 'Inna Allāha Ni`immā Ya`ižukum Bihi~ ۗ 'Inna Allāha Kāna Samī`āan Başīrāan 004-058 Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian, wahai orang-orang yang beriman, untuk menyampaikan segala amanat Allah atau amanat orang lain kepada yang berhak secara adil. Jangan berlaku curang dalam menentukan suatu keputusan hukum. Ini adalah pesan Tuhanmu, maka jagalah dengan baik, karena merupakan pesan terbaik yang diberikan-Nya kepada kalian. Allah selalu Maha Mendengar apa yang diucapkan dan Maha Melihat apa yang dilakukan. Dia mengetahui orang yang melaksanakan amanat dan yang tidak melaksanakannya, dan orang yang menentukan hukum secara adil atau zalim. Masing-masing akan mendapatkan ganjarannya. ‍ ‌‌ ‌‌‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ‌‌‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍ ۚ ‍ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍ۗ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū 'Aţī`ū Allaha Wa 'Aţī`ū Ar-Rasūla Wa 'Ūlī Al-'Amri Minkum ۖ Fa'in Tanāza`tumShay'in Faruddūhu 'Ilá Allāhi Wa Ar-Rasūli 'In Kuntum Tu'uminūna Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri ۚ Dhālika Khayrun Wa 'Aĥsanu Ta'wīlāan 004-059 Wahai orang-orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa Muhammad, taatilah Allah, rasul-rasul- Nya dan penguasa umat Islam yang mengurus urusan kalian dengan menegakkan kebenaran, keadilan dan melaksanakan syariat. Jika terjadi perselisihan di antara kalian, kembalikanlah kepada al-Qur'n dan sunnah Rasul-Nya agar kalian mengetahui hukumnya. Karena, Allah telah menurunkan al-Qur'n kepada kalian yang telah dijelaskan oleh Rasul-Nya. Di dalamnya terdapat hukum tentang apa yang kalian perselisihkan. Ini adalah konsekwensi keimanan kalian kepada Allah dan hari kiamat. Al-Qur'n itu merupakan kebaikan bagi kalian, karena, dengan al-Qur'n itu, kalian dapat berlaku adil dalam memutuskan perkara-perkara yang kalian perselisihkan. Selain itu, akibat yang akan kalian terima setelah memutuskan perkara dengan al-Qur'n, adalah yang terbaik, karena mencegah perselisihan yang menjurus kepada pertengkaran dan kesesatan. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍ۖ ‌ ‍‌ ‌‍‍‌ ‌‌ ‍ ‌‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ۚ‍‍‌ ‌‌ ‌
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhīna Yaz`umūna 'Annahum 'Āmanū Bimā 'Unzila 'Ilayka Wa Mā 'Unzila Min Qablika Yurīdūna 'An Yataĥākamū 'Ilá Aţ-Ţāghūti Wa Qad 'Umirū 'An Yakfurū Bihi Wa Yurīdu Ash-Shayţānu 'An Yuđillahum Đalālāan Ba`īdāan 004-060 Tidakkah kamu heran, wahai Nabi, melihat orang-orang yang mengaku beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu? Dalam pertengkaran, mereka mendasarkan hukum-hukum dengan selain hukum Allah yang mengandung kesesatan dan kerusakan. Padahal, mereka diperintah Allah untuk tidak berpegang kepada hukum selain hukum Allah itu. Setan hendak menyesatkan mereka dari jalan yang benar dan lurus sehingga mereka menjadi sangat tersesat. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍ ‍‌ ‍‍‍ ‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌‌ ‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ‌‌‌ ‍ ‌‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌‍‍‌ ‌
Wa 'Idhā Qīla Lahum Ta`ālaw 'Ilá Mā 'Anzala Allāhu Wa 'Ilá Ar-Rasūli Ra'ayta Al-Munāfiqīna Yaşuddūna `Anka Şudūdāan 004-061 Apabila kamu katakan kepada mereka, "Terimalah al-Qur'n dan syariat yang diturunkan Allah dan kemudian dijelaskan oleh rasul-Nya," niscaya kamu akan mendapatkan orang-orang munafik menolak ajakan itu dengan keras. ‌‌‌‌ ‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‌‌‌ ‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌‌‌
Fakayfa 'Idhā 'Aşābat/hum Muşībatun Bimā Qaddamat 'Aydīhim Thumma Jā'ūka Yaĥlifūna Billāhi~ 'In 'Aradnā 'Illā 'Iĥsānāan Wa Tawfīqāan 004-062 Betapa buruk keadaan mereka, saat mereka tertimpa musibah dan tidak mendapatkan tempat mengadu kecuali kepadamu, lalu mereka mendatangimu dan bersumpah bahwa perkataan dan tindakan yang mereka lakukan itu tidak lain untuk mendapatkan kebaikan dan mencari petunjuk. ‍‍‍ ‌‌‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍‌‌ ‌ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‌‍‍‍ ‌‌ ‌‌‍‌ ‌‌ ‌‌ ‌‍‍‍
'Ūlā'ika Al-Ladhīna Ya`lamu Allāhu Mā Fī Qulūbihim Fa'a`riđ `Anhum Wa `Ižhum Wa Qul Lahum Fī 'Anfusihim Qawlāan Balīghāan 004-063 Orang-orang yang bersumpah bahwa mereka hanya menginginkan kebaikan dan petunjuk itu, Allah mengetahui kebohongan serta hakikat yang ada di dalam hati mereka. Oleh karena itu, jangan hiraukan ucapan mereka dan ajaklah mereka kepada kebenaran dengan nasihat yang baik. Katakan kepada mereka kata-kata yang bijak dan penuh arti, hingga merasuk ke dalam kalbu mereka. ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‍ ‍ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍‍ ‍ ‌‌‌ ‍‍‍
Wa Mā 'Arsalnā Min Rasūlin 'Illā Liyuţā`a Bi'idhni Allāhi ۚ Wa Law 'Annahum 'Idh Žalamū 'Anfusahum Jā'ūka Fāstaghfarū Allaha Wa Astaghfara Lahumu Ar-Rasūlu Lawajadū Allaha Tawwābāan Raĥīmāan 004-064 Kami tidak pernah mengutus seorang rasul pun kecuali agar risalahnya ditaati dengan seizin Allah. Dan barangsiapa yang bersikap munafik, mendustakan atau menentangnya, berarti telah menganiaya diri sendiri. Andai saja orang-orang yang menganiaya diri sendiri itu kembali kepada petunjuk, lalu datang kepadamu dan meminta ampunan Allah atas apa yang mereka lakukan, dan kamu pun mengharap ampunan untuk mereka sesuai dengan risalah dan perubahan pada diri mereka, mereka pasti akan mendapatkan Allah Maha Penerima tobat dan Mahakasih kepada hamba-Nya. ‌ ‌‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍ۚ ‌‌ ‌‍ ‌‌‌ ‍‍‌ ‌‌‍ ‍‍‍‍‍‌‍‍‍‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍
Falā Wa Rabbika Lā Yu'uminūna Ĥattá Yuĥakkimūka Fīmā Shajara Baynahum Thumma Lā Yajidū Fī 'Anfusihim Ĥarajāan Mimmā Qađayta Wa Yusallimū Taslīmāan 004-065 Demi Tuhanmu, mereka tidak dianggap beriman dan tunduk kepada kebenaran, sebelum mereka menjadikan kamu sebagai hakim yang memutuskan persengketaan yang timbul di antara mereka, lalu tidak merasa berat hati dengan keputusan yang kamu ambil, dan tunduk kepadamu setunduk orang-orang Mukmin yang benar. ‌ ‌‌‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‌ ‍‌ ‍ ‌ ‌‌ ‍ ‌‌‍ ‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌
Wa Law 'Annā Katabnā `Alayhim 'Ani Aqtulū 'Anfusakum 'Aw Akhrujū Min Diyārikum Mā Fa`alūhu 'Illā Qalīlun Minhum ۖ Wa Law 'Annahum Fa`alū Mā Yū`ažūna Bihi Lakāna Khayan Lahum Wa 'Ashadda Tathbītāan 004-066 Kalau saja Kami menentukan tugas yang sangat berat dengan memerintahkan jihad terus menerus, membiarkan mereka mati atau meninggalkan rumah terus menerus untuk berjihad, tentu hanya sedikit yang menaatinya. Tetapi Allah Swt. memang tidak mewajibkan sesuatu kecuali sesuai kemampuan manusia. Kalau saja mereka melakukan perintah itu, tentu akan membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan, tentu akan mengarah kepada kemantapan iman, kestabilan dan ketenteraman. ‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌‌‍ ‌‌‌ ‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍ۖ ‌‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌‌ ‌‌‌
Wa 'Idhāan La'ātaynāhum Min Ladunnā 'Ajan `Ažīmāan 004-067 Kalau mereka benar-benar melaksanakan kewajiban Tuhan sesuai kemampuan, mereka pasti akan diberikan pahala yang besar dari karunia-Nya. ‌‌‌‌ ‍‌ ‌ ‌‍‌‌ ‍‍‍
Wa Lahadaynāhum Şirāţāan Mustaqīmāan 004-068 Selain itu, mereka tentu akan ditunjukkan Allah jalan yang lurus dan jelas, oleh sebab ketaatan mereka terhadap tugas yang mampu dilaksanakan. ‌ ‍‍‍
Wa Man Yuţi`i Allāha Wa Ar-Rasūla Fa'ūlā'ika Ma`a Al-Ladhīna 'An`ama Allāhu `Alayhim Mina An-Nabīyīna Wa Aş-Şiddīqīna Wa Ash-Shuhadā'i Wa Aş-Şāliĥīna ۚ Wa Ĥasuna 'Ūlā'ika Raqāan 004-069 Barangsiapa mematuhi Allah dan rasul-Nya dengan menyerah dan menerima perintah dan keputusan- Nya, akan bersama orang-orang yang dikaruniai petunjuk di dunia dan di akhirat. Yaitu para nabi dan pengikutnya yang mempercayai dan meneladani ajarannya, para syuhad' yang mati di jalan Allah dan orang-orang saleh yang memiliki kesesuaian antara apa yang mereka tampakkan dan yang mereka tidak tampakkan. Alangkah baiknya mereka sebagai teman. Orang yang berteman dengan mereka tidak akan sengsara, karena perkataannya tidak membosankan. ‍‌‍‍‍ ‌‍‍ ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‌‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍ۚ ‌ ‌‍‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍
Dhālika Al-Fađlu Mina Allāhi ۚ Wa Kafá Billāhi `Alīmāan 004-070 Derajat yang mulia itu akan diberikan pada orang-orang yang menaati Allah dan rasul-Nya, sebagai karunia yang agung dari Allah, Yang Maha Mengetahui dan memberi balasan terhadap semua perbuatan. Cukuplah pengetahuan Allah atas perbuatan orang yang beriman ketika ia menaati-Nya dan memohon perkenan-Nya. ‍‍ۚ ‌‌ ‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Khudhū Ĥidhrakumnfirū Thubātin 'Aw Anfirū Jamī`āan 004-071 Wahai orang-orang yang beriman, waspadalah selalu terhadap musuh-musuh kalian dan persiapkanlah diri kalian untuk menghadapi tipu daya mereka. Keluarlah dengan terpisah, berkelompok-kelompok atau bersatu untuk memerangi mereka. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌‌ ‌‍‍‌‌ ‍‍‍ ‌‌‌ ‍‌
Wa 'Inna Minkum Laman Layubaţţi'anna Fa'in 'Aşābatkum Muşībatun Qāla Qad 'An`ama Allāhu `Alayya 'Idh Lam 'Akun Ma`ahum Shahīdāan 004-072 Waspadalah terhadap orang yang enggan dan merasa berat untuk berperang karena di antara orang-orang yang hidup bersama kalian ada yang enggan dan merasa berat untuk maju ke medan perang. Jika kalian mendapat musibah dalam perang, maka mereka akan mencela kalian seraya berkata, "Allah telah memberiku nikmat, karena aku tidak ikut berperang bersama mereka." ‍‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍ ‌‍‍ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‌‍ ‌‌‌ ‌‍‌
Wa La'in 'Aşābakum Fađlun Mina Allāhi Layaqūlanna Ka'an Lam Takun Baynakum Wa Baynahu Mawaddatun Yā Laytanī Kuntu Ma`ahum Fa'afūza Fawzāan `Ažīmāan 004-073 Dan jika kalian mendapat kemenangan dari Allah dan keberuntungan berupa harta rampasan perang, maka--dengan penuh penyesalan dan harapan-mereka berkata, "Seandainya aku ikut perang bersama mereka, pasti aku mendapatkan harta rampasan yang banyak." Mereka mengucapkan demikian, seakan-akan tidak ada hubungan cinta kasih yang mengikat antara mereka dan kalian. ‍‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍
Falyuqātil Fī Sabīli Allāhi Al-Ladhīna Yashrūna Al-Ĥayāata Ad-Dunyā Bil-'Ākhirati ۚ Wa Man Yuqātil Fī Sabīli Allāhi Fayuqtal 'Aw Yaghlib Fasawfa Nu'utīhi 'Ajan `Ažīmāan 004-074 Jika di antara kalian ada yang merasa enggan untuk berperang disebabkan oleh imannya yang lemah, atau karena tidak memiliki keinginan yang kuat, maka orang-orang yang menganggap rendah kehidupan dunia demi kehidupan akhirat hendaknya berperang demi menegakkan kebenaran dan meninggikan kalimat Allah. Barangsiapa berperang demi menegakkan kebenaran dan meninggikan kalimat Allah, maka ia akan memperoleh satu dari dua kebaikan. Jika terbunuh dalam medan peperangan, ia akan memperoleh pahala mati syahid di jalan Allah. Dan, jika menang, ia akan memperoleh keberuntungan di dunia. Dalam kedua kondisi tersebut Allah akan memberinya pahala yang mulia di akhirat kelak. ‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍ ‍‌‍‌ ‍‍‍ ۚ ‌‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‌‌ ‍‍‍
Wa Mā Lakum Lā Tuqātilūna Fī Sabīli Allāhi Wa Al-Mustađ`afīna Mina Ar-Rijāli Wa An-Nisā' Wa Al-Wildāni Al-Ladhīna Yaqūlūna Rabbanā 'Akhrijnā Min Hadhihi Al-Qaryati Až-Žālimi 'Ahluhā Wa Aj`al Lanā Min Ladunka Walīyāan Wa Aj`al Lanā Min Ladunka Naşīrāan 004-075 Bagaimana kalian sampai hati untuk tidak berperang di jalan Allah, sedangkan orang tua laki-laki, wanita dan anak-anak yang lemah selalu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata, "Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari kekuasaan orang-orang yang zalim. Tempatkanlah kami berada di dalam kekuasaan orang-orang yang beriman dengan kekuasaan dan rahmat-Mu. Berikanlah kami penolong dari sisi-Mu yang akan menolong kami." ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‍‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍ ‌ ‍‌‍ ‌‌ ‌‍‍ ‌ ‍‌‍ ‍‍‍‍‍
Al-Ladhīna 'Āmanū Yuqātilūna Fī Sabīli Allāhi Wa ۖ Al-Ladhīna Kafarū Yuqātilūna Fī Sabīli Aţ-Ţāghūti Faqātilū 'Awliyā'a Ash-Shayţāni ۖ 'Inna Kayda Ash-Shayţāni Kāna Đa`īfāan 004-076 Orang-orang yang percaya dan tunduk kepada kebenaran, berperang demi menegakkan kalimat Allah, keadilan dan kebenaran. Sedangkan orang-orang yang ingkar dan membangkang, berperang di jalan kezaliman dan kerusakan. Mereka adalah penolong-penolong setan. Maka dari itu, wahai orang-orang yang beriman, perangilah mereka dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan menang melawan mereka dengan pertolongan Allah. Karena, tipu daya setan itu sebenarnya sangat lemah, meskipun dapat mendatangkan kerusakan amat besar. Kemenangan hanya untuk yang benar. ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ۖ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ۖ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍
'Alam Tara 'Ilá Al-Ladhīna Qīla Lahum Kuffū 'Aydiyakum Wa 'Aqīmū Aş-Şalāata Wa 'Ātū Az-Zakāata Falammā Kutiba `Alayhimu Al-Qitālu 'Idhā Farīqun Minhum Yakhshawna An-Nāsa Kakhashyati Allāhi 'Aw 'Ashadda Khashyatan ۚ Wa Qālū Rabbanā Lima Katabta `Alaynā Al-Qitāla Lawlā 'Akhkhartanā 'Ilá 'Ajalin Qarībin ۗ Qul Matā`u Ad-DunQalīlun Wa Al-'Ākhiratu Khayrun Limani Attaqá Wa Lā Tužlamūna Fatīlāan 004-077 Wahai Muhammad, tidakkah kamu melihat dan heran terhadap orang-orang yang menginginkan perang sebelum datang perintah perang? Kepada mereka dikatakan, "Belum tiba saatnya berperang, tahanlah dirimu, jagalah selalu salat dan zakat kalian." Akan tetapi, tatkala datang perintah berperang, sebagian mereka takut kepada manusia seperti halnya kepada Allah, bahkan lebih. Dengan penuh heran, mereka berkata, "Mengapa Engkau mewajibkan berperang kepada kami?" Mereka mengira bahwa kewajiban perang itu akan mempercapat kematian mereka. Oleh karena itu mereka mengatakan, "Mengapa tidak Engkau tangguhkan beberapa waktu lagi, hingga kami dapat menikmati apa yang ada di dunia ini?" Katakan kepada mereka, "Majulah ke medan pertempuran, meskipun perang itu akan menyebabkan kematian. Kenikmatan dunia, meskipun tampak besar, sangat kecil dibanding kenikmatan akhirat. Akhirat jauh lebih baik dan lebih besar artinya bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Kalian akan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan kalian di dunia tanpa berkurang sedikit pun. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌‌ ۚ ‌‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ۗ ‍ ‍‍‍ ‍‌‍‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍
'Aynamā Takūnū Yudrikkumu Al-Mawtu Wa Law Kuntum Fī Burūjin Mushayyadatin ۗ Wa 'In Tuşibhum Ĥasanatun Yaqūlū Hadhihi Min `Indi Allāhi ۖ Wa 'In Tuşibhum Sayyi'atun Yaqūlū Hadhihi Min `Indika ۚ Qul Kullun Min `Indi Allāhi ۖ Famāli Hā'uulā' Al-Qawmi Lā Yakādūna Yafqahūna Ĥadīthāan 004-078 Kematian yang kalian takuti itu pasti akan datang di mana saja, walaupun kalian berada di benteng yang sangat kokoh sekalipun. Orang-orang yang takut karena imannya lemah, jika mendapat kemenangan dan harta rampasan perang, akan berkata, "Harta rampasan itu dari sisi Allah." Tetapi, jika mendapat kekalahan, orang-orang itu akan berkata kepadamu, Muhammad, "Kekalahan itu datang dari dirimu." Padahal, nasib buruk itu bukan dari dirimu. Katakan kepada mereka, "Semua yang menimpa kalian, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, merupakan takdir Allah. Semuanya berasal dari Allah sebagai ujian dan cobaan." Mengapa orang-orang yang lemah itu tidak mengetahui perkataan benar yang dikatakan kepada mereka? ‌ ‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‌ۗ ‌‌‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ۖ ‌‌‌‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌ ‍‌‍‍ۚ ‌ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ۖ‍‍‍‍‌‌‌ ‍‍ ‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍‍
Mā 'Aşābaka Min Ĥasanatin Famina Allāhi ۖ Wa Mā 'Aşābaka Min Sayyi'atin Famin Nafsika ۚ Wa 'Arsalnāka Lilnnāsi Rasūlāan ۚ Wa Kafá Billāhi Shahīdāan 004-079 "Wahai Nabi, semua kenikmatan, kesehatan dan keselamatan yang kamu rasakan adalah karunia dan kebaikan Allah yang diberikan kepadamu. Sedang kesusahan, kesulitan, bahaya dan keburukan yang menimpa kamu adalah berasal dari dirimu sendiri, sebagai akibat dari dosa yang telah kamu perbuat." (Ungkapan ini ditujukan kepada Rasulullah saw. sebagai gambaran jiwa manusia pada umumnya, meskipun beliau sendiri terpelihara dari segala bentuk keburukan). "Kami mengutusmu sebagai rasul Kami kepada seluruh umat manusia. Kami, akan menjadi saksi atas penyampaianmu dan atas jawaban mereka. Cukuplah Allah Maha Mengetahui." ‌ ‌‍‍ ‍‌ۖ ‌‍‌ ‌‍‍ ‍‌‌ ‍‌ ۚ ‌‌‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍ۚ ‌‌ ‍‍ ‌
Man Yuţi`i Ar-Rasūla Faqad 'Aţā`a Allāha ۖ Wa Man Tawallá Famā 'Arsalnāka `Alayhim Ĥafīžāan 004-080 Barangsiapa mematuhi rasul berarti telah mematuhi Allah. Sebab, Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang sesuatu, kecuali sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Oleh karena itu, orang yang menaati Rasulullah saw. dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya, berarti juga menaati Allah. Sedangkan orang yang tidak mematuhimu, Muhammad, ketahuilah bahwa Kami mengutusmu sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, bukan untuk menguasai dan memelihara amal perbuatan mereka, yang merupakan tanggung jawab Kami, bukan tanggung jawabmu. ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍ ۖ ‌‍‌ ‌ ‍‌ ‌‌‍‍‍‍‍
Wa Yaqūlūna Ţā`atun Fa'idhā Barazū Min `Indika Bayyata Ţā'ifatun Minhum Ghayra Al-Ladhī Taqūlu Wa ۖ Allāhu Yaktubu Mā Yubayyitūna ۖ Fa'a`riđ `Anhum Wa Tawakkal `Alá Allāhi ۚ Wa Kafá Billāhi Wa Kīlāan 004-081 Golongan yang ragu-ragu itu mengatakan, "Perintahmu telah dilaksanakan, dan tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali menaati perintah dan larangan itu." Tetapi jika mereka telah pergi dan menjauh darimu, sebagian mereka ada yang menyusun siasat yang berbeda dengan perintah dan laranganmu, di malam hari. Janganlah kamu mengikuti mereka. Jauhilah mereka. Serahkan segala urusanmu kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya. Cukuplah Allah menjadi pemelihara dan pelindung. ‍‍‍‍ ‍‌‌ ‌‌‌ ‍‌‌‌ ‍‌ ‍‌‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ۖ ‌ ‍‍‍ ۖ ‍‌‍‍‍ ‌ ‌ ۚ ‌‌ ‍‍ ‌
'Afalā Yatadabbarūna Al-Qur'āna ۚ Wa Law Kāna Min `Indi Ghayri Allāhi Lawajadū Fīhi Akhtilāfāan Kathīrāan 004-082 Apakah orang-orang munafik itu tidak merenungkan kitab Allah agar mengetahui alasan yang datang dari Allah mengapa mereka wajib menaati-Nya dan mengikuti perintahmu? Sesungguhnya al-Qur'n ini benar-benar berasal dari Allah, karena keselarasan makna dan hukum yang dikandungnya serta keterpaduan ayat-ayatnya yang saling menguatkan. Ini adalah bukti yang kuat bahwa al-Qur'n itu benar- benar berasal dari Allah. Kalau al-Qur'n bukan berasal dari Allah tentu makna-maknanya akan saling bertentangan dan hukum-hukumnya banyak yang saling berbeda. ‍‍‌ ‍‍‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍‍ ‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‌‌ ‍
Wa 'Idhā Jā'ahum 'Amrun Mina Al-'Amni 'Awi Al-Khawfi 'Adhā`ū Bihi ۖ Wa Law Raddūhu 'Ilá Ar-Rasūli Wa 'Ilá 'Ūlī Al-'Amri Minhum La`alimahu Al-Ladhīna Yastanbiţūnahu Minhum ۗ Wa Lawlā Fađlu Allāhi `Alaykum Wa Raĥmatuhu Lāttaba`tumu Ash-Shayţāna 'Illā Qalīlāan 004-083 Ketika mengetahui kekuatan atau kelemahan umat Islam, orang-orang munafik langsung menyebarkan dan menyiarkannya dengan tujuan menipu dan menakut-nakuti umat Islam, atau menyalurkan berita itu kepada pihak musuh. Seandainya masalah aman dan takut itu mereka kembalikan kepada Rasulullah saw. atau ul al-amr, yaitu para pemimpin dan pembesar-pembesar sahabat, atau seandainya mereka bermaksud mencari hakikat yang sebenarnya, mereka pasti akan mengetahuinya langsung dari Rasulullah dan pemimpin-pemimpin sahabat. Kalau bukan karena karunia Allah dengan pemantapan iman dalam hatimu dan pencegahan fitnah, dan bukan pula karena rahmat-Nya yang mengantarkanmu kepada kemenangan dan keberuntungan, maka sebagian besar kalian tentu akan mengikuti bujukan setan. Dan hanya sebagian kecil saja yang selamat dari bujukan dan godaannya. ‌‌‌‌ ‍‍‍‌ ‌ ‌‌‌ ‍‍ ‌‌‌‌ ‍ ۖ ‌‌ ‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍ ‌‌‍‌ ‌‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍ۗ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌‍ ‍‍‍‍ ‌‌
Faqātil Fī Sabīli Allāhi Lā Tukallafu 'Illā Nafsaka ۚ Wa Ĥarriđi Al-Mu'uminīna ۖ `Asá Allāhu 'An Yakuffa Ba'sa Al-Ladhīna Kafarū Wa ۚ Allāhu 'Ashaddu Ba'sāan Wa 'Ashaddu Tankīlāan 004-084 Jika di antara kalian terdapat orang yang bersifat seperti munafik, maka jauhilah mereka. Berperanglah di jalan Allah dan jalan kebenaran, sebab kamu hanya bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Lalu ajaklah orang-orang Mukmin untuk berperang. Semoga, dengan demikian, Allah menjauhkan kalian dari kekejaman orang-orang kafir. Dialah penolong kalian. Allah amat besar kekuatan-Nya dan amat kejam siksaan-Nya terhadap orang-orang kafir. ‍ ‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ۚ ‌‍ ‍‍‍ۖ‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ۚ ‌‌ ‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍
Man Yashfa` Shafā`atan Ĥasanatan Yakun Lahu Naşībun Minhā ۖ Wa Man Yashfa` Shafā`atan Sayyi'atan Yakun Lahu Kiflun Minhā ۗ Wa Kāna Allāhu `Alá Kulli Shay'in Muqītāan 004-085 Orang-orang munafik itu selalu mempertahankan kerusakan, sedangkan orang-orang Mukmin akan tetap membela kebenaran. Barangsiapa menolong dan menjunjung kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya. Dan barangsiapa memihak kepada orang-orang yang berbuat kejahatan, maka ia akan mendapatkan dosa dan siksa. Sesungguhnya Allah Mahakuasa lagi Maha Mengetahui segala sesuatu. ‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ۖ ‌‍‌ ‌ ‍‌ ‌ ‍‌‍‍‍‌ ۗ ‌‍‍‍ ‍ ‌ ‍‌ ‍‍‍
Wa 'Idhā Ĥuyyītum Bitaĥīyatin Faĥayyū Bi'aĥsana Minhā 'Aw Ruddūhā ۗ 'Inna Allāha Kāna `Alá Kulli Shay'in Ĥasībāan 004-086 Jika seseorang--siapa pun ia--memberimu penghormatan berupa ucapan salam, ucapan selamat, doa dan semacamnya, maka balaslah penghormatan itu dengan penghormatan yang lebih baik atau yang sama. Sebab, sesungguhnya Allah selalu memperhitungkan segala sesuatu yang kecil maupun yang besar. ‌‌‌‌ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌‌ ‌‌‌‍ۗ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍
Al-Lahu Lā 'Ilāha 'Illā Huwa ۚ Layajma`annakum 'Ilá Yawmi Al-Qiyāmati Lā Rayba Fīhi ۗ Wa Man 'Aşdaqu Mina Allāhi Ĥadīthāan 004-087 Allah, yang tidak ada tuhan selain Dia dan tidak ada kekuasaan bagi selain Dia, benar-benar akan membangkitkan dan mengumpulkan kalian setelah mati untuk dihisab. Dia telah mengatakan hal itu, maka janganlah ragu dengan perkataan-Nya. Adakah perkataan yang lebih benar dari perkataan Allah? ‌ ‌ ‌‌ ‌ ۚ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍ ‍‍‍ ‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍ۗ ‌‍‌ ‌‍‍‍
Famā Lakum Al-Munāfiqīna Fi'atayni Wa Allāhu 'Arkasahum Bimā Kasabū ۚ 'Aturīdūna 'An Tahdū Man 'Ađalla Allāhu ۖ Wa Man Yuđlili Allāhu Falan Tajida Lahu Sabīlāan 004-088 Wahai orang-orang yang beriman, tidak sepantasnya kalian berselisih tentang orang-orang munafik yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran: apakah mereka beriman atau kafir, apakah mereka layak diperangi atau tidak, atau apakah mereka memiliki kesiapan untuk mendapat petunjuk atau tidak. Sungguh akal mereka telah membalikkan apa yang telah mereka perbuat dan menjadikan kejahatan menguasai diri mereka. Maka janganlah kamu mengharapkan petunjuk orang yang telah ditakdirkan oleh Allah, dalam ilmu-Nya yang azali, tidak mendapatkan petunjuk. Karena barangsiapa ditakdirkan sesat oleh Allah, dalam ilmu-Nya yang azali, maka sedikit pun ia tidak akan mendapat petunjuk. ‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‌ ‍ۚ ‌‍‍‍‌ ‌‌‌ ‍‌ ‌‍ۖ ‌‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍
Waddū Law Takfurūna Kamā Kafarū Fatakūnūna Sawā'an ۖ Falā Tattakhidhū Minhum 'Awliyā'a Ĥattá Yuhājirū Fī Sabīli Allāhi ۚ Fa'in Tawallaw Fakhudhūhumqtulūhum Ĥaythu Wajadtumūhum ۖ Wa Lā Tattakhidhū Minhum Walīyāan Wa Lā Naşīrāan 004-089 Kalian berupaya agar orang-orang munafik itu mendapat petunjuk, sedangkan mereka menginginkan kalian menjadi kafir seperti mereka. Jika demikian keadaan mereka, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai penolong kalian dan jangan pula menganggap mereka bagian dari golongan kalian, sampai mereka berhijrah dan berperang di jalan Islam. Karena, hanya dengan berhijrah dan berperang di jalan Islam itulah kemunafikan mereka akan hilang. Tetapi jika mereka berpaling dan bergabung dengan musuh-musuh kalian, perangilah mereka di mana saja kalian temui. Jangan anggap mereka sebagai bagian dari golongan kalian, dan jangan pula jadikan mereka sebagai penolong-penolong kalian. ‌‌‌ ‌ ‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍ ‍‍‌‌‌ۖ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‍‍‍‌‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‍ ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍
'Illā Al-Ladhīna Yaşilūna 'Ilá Qawmin Baynakum Wa Baynahumthāqun 'Aw Jā'ūkum Ĥaşirat Şudūruhum 'An Yuqātilūkum 'Aw Yuqātilū Qawmahum ۚ Wa Law Shā'a Allāhu Lasallaţahum `Alaykum Falaqātalūkum ۚ Fa'ini A`tazalūkum Falam Yuqātilūkum Wa 'Alqaw 'Ilaykumu As-Salama Famā Ja`ala Allāhu Lakum `Alayhim Sabīlāan 004-090 Karena merusak persatuan masyarakat Muslim, semua orang munafik itu berhak diperangi, kecuali mereka yang mempunyai hubungan dengan suatu bangsa yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam untuk tidak saling membunuh antara masing-masing anggota dua kelompok itu. Juga mereka yang bimbang: apakah ikut bergabung bersama orang-orang munafik yang merupakan musuh umat Islam, sementara tidak ada perjanjian untuk itu, atau bergabung perang bersama kelompok umat Islam? Larangan memerangi kelompok pertama didasarkan pada adanya ikatan perjanjian, sedang kelompok kedua dilakukan karena mereka sedang berada di dalam kesulitan. Seandainya Allah berkehendak, niscaya Dia akan menjadikan mereka memerangi kalian. Dan jika mereka menghendaki perdamaian, maka tidak ada jalan bagimu untuk memerangi mereka. ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‌ ‌‌‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍ۚ ‌‌ ‍‍‍‌‌ ‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍ۚ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‌‌ ‌ ‍ ‌
Satajidūna 'Ākharīna Yurīdūna 'An Ya'manūkum Wa Ya'manū Qawmahum Kulla Mā Ruddū 'Ilá Al-Fitnati 'Urkisū Fīhā ۚ Fa'in Lam Ya`tazilūkum Wa Yulqū 'Ilaykumu As-Salama Wa Yakuffū 'Aydiyahum Fakhudhūhumqtulūhum Ĥaythu Thaqiftumūhum ۚ Wa 'Ūla'ikum Ja`alnā Lakum `Alayhim Sulţānāan Mubīnāan 004-091 Jika kalian menampakkan kemusyrikan, mereka akan bersama kalian. Tetapi jika orang-orang musyrik itu menampakkan keislaman, maka mereka tetap bersama orang-orang musyrik, karena mereka ingin selamat dari orang-orang Islam dan orang-orang musyrik. Mereka selalu berada dalam kesesatan dan kemunafikan. Jika mereka tidak berhenti memerangi kalian dan tidak mau menyatakan damai, maka perangilah mereka di mana pun kalian temukan. Karena, jika mereka tidak menghentikan peperangan, orang-orang Mukmin beralasan untuk melawan mereka. Allah menjadikan alasan yang jelas bagi orang-orang yang beriman untuk memerangi mereka. ‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ‌‌‍ ‌ ‌‌‌ ‌‌ ‌‌‌ ‌ ۚ ‌‍‍‍‌ ‌ ‍ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍ۚ ‌‌‍‍‌ ‌ ‍‍‍
Wa Mā Kāna Limu'uminin 'An Yaqtula Mu'umināan 'Illā Khaţa'an ۚ Wa Man Qatala Mu'umināan Khaţa'an Fataĥrīru Raqabatin Mu'uminatin Wa Diyatun Musallamatun 'Ilá 'Ahlihi~ 'Illā 'An Yaşşaddaqū ۚ Fa'in Kāna Min Qawmin `Adūwin Lakum Wa Huwa Mu'uminun Fataĥrīru Raqabatin Mu'uminatin ۖ Wa 'In Kāna Min Qawmin Baynakum Wa Baynahumthāqun Fadiyatun Musallamatun 'Ilá 'Ahlihi Wa Taĥrīru Raqabatin Mu'uminatin ۖ Faman Lam Yajid Faşiyāmu Shahrayni Mutatābi`ayni Tawbatan Mina Allāhi ۗ Wa Kāna Allāhu `Alīmāan Ĥakīmāan 004-092 Pembagian orang munafik ke dalam dua golongan itu didasarkan pada asas kehati-hatian, dengan maksud agar tidak terjadi pembunuhan terhadap orang Muslim karena diduga munafik. Sementara, membunuh orang Muslim itu diharamkan, kecuali kalau terjadi secara salah atau tidak sengaja. Bila terjadi pembunuhan terhadap orang Muslim secara salah atau tidak sengaja, kalau si korban itu tinggal di dalam wilayah Islam, maka pelaku pembunuhan dikenakan sanksi membayar diyat kepada keluarga korban sebagai ganti atas hilangnya seorang anggota keluarga, dan sanksi memerdekakan seorang budak Muslim sebagai ganti atas hilangnya seorang anggota masyarakat Muslim. Sebab, memerdekakan seorang budak Muslim itu berarti menciptakan suasana hidup bebas dalam masyarakat Muslim. Pembebasan seorang budak Muslim seolah-olah cukup untuk mengganti hilangnya salah seorang anggota masyarakat Muslim. (1) Tetapi, kalau si terbunuh itu berasal dari golongan yang memiliki perjanjian damai dengan umat Islam, maka sanksi yang dikenakan kepada pelaku pembunuhan adalah memerdekakan seorang budak Muslim dan membayar diyat kepada keluarga korban sebagai ganti salah satu anggotanya yang meninggal. Karena, dengan adanya perjanjian itu, mereka tidak akan menggunakan diyat itu untuk menyakiti orang Muslim. Bila si pelaku pembunuhan tidak mendapatkan budak untuk dimerdekakan, maka ia harus berpuasa dua bulan berturut- turut. Hal itu akan menjadi pelajaran bagi dirinya agar selalu berhati-hati dan waspada. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam jiwa dan hati seseorang serta Mahabijaksana dalam menetapkan setiap hukuman. (1) Ialah tidak menyamakan antara hukuman pembunuhan yang tidak disengaja dengan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja. Hal itu disebabkan karena pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, palakunya berniat melakukan maksiat. Oleh karena itu kejahatannya telah terhitung berat dan besar sesuai dengan beratnya hukuman yang diterimanya. Adapun pembunuhan yang dilakukan dengan tidak sengaja, pelakunya tidak berniat melakukan maksiat. Kemaksiatan yang dilakukannya itu berkaitan dengan perbuatannya. Ketentuan ini merupakan variasi hukum pidana Islam sesuai jenis yang dilakukan. Ayat ini menjelaskan hukum kafarat pembunuhan yang dilakukan dengan tidak sengaja, yaitu memerdekakan budak Muslim, dan berpuasa jika tidak mendapatkan budak untuk dimerdekakan. Kafarat ini mengandung nilai hukuman dan nilai ibadah. Secara lahiriah yang bertanggung jawab membayar kafarat adalah pelaku kejahatan, karena di dalam kafarat tersebut terdapat pelajaran dan pendekatan diri kepada Allah, sehingga Allah mengampuni dosa yang diperbuatnya. Selain kafarat, pada pembunuhan tidak sengaja terdapat sanksi diyat. Diyat ini telah ditentukan oleh Allah Swt. Tidak ada pembedaan antara satu korban dengan yang lainnya. Di sini terdapat nilai persamaan yang paling tinggi antara semua manusia. Diyat ini diwajibkan kepada kerabat si pembunuh, karena jika mereka bersepakat untuk mencegah pembunuhan itu, niscaya mereka akan dapat melakukannya. Tanggung jawab semacam ini dapat mengurangi tindak kejahatan. Namun, hal itu semua tidak menghalangi waliy al-amr (pemerintah atau penguasa) untuk memberi sanksi kepada pelaku kejahatan jika dalam sanksi itu terdapat kemaslahatan. Sebab, pembunuhan tidak disengaja pun termasuk tindak kejahatan, oleh karenanya disebutkan dalam ayat ini. Pada bagian akhir ayat ini, Allah menjelasakan bahwa sanksi kafarat dan diyat itu diundangkan sebagai syarat diterimanya pertobatan. Hal ini menunjukkan adanya sikap kurang hati-hati dari pelaku pembunuhan tidak disengaja. Oleh karena itu, para ahli hukum Islam menyatakan bahwa risiko dosa yang diterima pelaku pembunuhan tak disengaja itu bukan dosa karena membunuh, melainkan dosa karena sikap kurang waspada dan kurang teliti. Sebab perbuatan mubah (halal, boleh) itu boleh dilaksanakan dengan syarat tidak merugikan orang lain. Kalau perbuatan mubah itu merugikan orang lain, maka terbuktilah ketidakhati-hatian pelakunya dan, oleh karenanya, ia berdosa. Disebutkan pula bahwa pembunuhan tidak disengaja dapat dihindari dengan sikap hati-hati dan waspada. (Al-Kasny, juz 7 hlm. 252) Semua sanksi yang ditetapkan itu sesuai dengan besarnya bahaya yang diakibatkan pembunuhan, hingga Allah pun melarangnya. Jika dibanding dengan hukum positif, kita akan mendapatkan perbedaaan yang sangat besar. Dalam hukum positif, orang tidak lagi takut dengan sanksi yang ditetapkan, yang berakibat merebaknya kejahatan semacam ini. Dengan banyaknya akibat negatif hukum positif itu, belakangan muncul seruan menuntut ditetapkannya sanksi lebih keras kepada pelaku pembunuhan tak disengaja ini. Seandainya umat manusia mengikuti syariat al-Qur'n, niscaya mereka akan memberikan sesuatu yang dapat meringankan beban jiwa dan kerugian materi kepada keluarga si korban, baik berupa kafarat atau diyat yang harus dibayar oleh kelurga pembunuh. Di samping itu, satu sama lain akan saling mencegah untuk melakukan kesalahan yang dapat menyebabkan pembunuhan. ‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍ۚ ‌‍‌ ‍ ‌ ‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌‌‌ ‌‌ ‌‍‌ ‌ ‌‌ ‌‌‍‍‍‍‍‍ۚ‍‍ ‍‌ ‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‍ۖ ‌‌‌‍‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‌ ‌‍ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌ۖ ‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍ ۗ ‌‍‍‍ ‍ ‌
Wa Man Yaqtul Mu'umināan Muta`ammidāan Fajazā'uuhu Jahannamu Khālidāan Fīhā Wa Ghađiba Allāhu `Alayhi Wa La`anahu Wa 'A`adda Lahu `Adhābāan `Ažīmāan 004-093 Barangsiapa dengan sengaja membunuh seorang Muslim dengan maksud permusuhan, dan ia membenarkan tindakannya itu, maka balasannya adalah neraka Jahanam. Ia akan kekal di dalamnya. Allah pun akan murka kepadanya dan menjauhkannya dari kasih sayang-Nya. Allah akan menyiapkan baginya siksa yang sangat pedih di akhirat nanti. Sebab, pembunuhan merupakan kejahatan terbesar yang ada di dunia. ‍‌‍‍‌ ‍‍‍‍‌‌‍‍‌‍‍‍‌‌‌ ‌ ‌‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‍ ‌‌‌ ‍ ‌‌ ‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū 'Idhā Đarabtum Fī Sabīli Allāhi Fatabayyanū Wa Lā Taqūlū Liman 'Alqá 'Ilaykumu As-Salāma Lasta Mu'umināan Tabtaghūna `Arađa Al-Ĥayāati Ad-Dunyā Fa`inda Allāhi Maghānimu Kathīratun ۚ Kadhālika Kuntum Min Qablu Famanna Allāhu `Alaykum Fatabayyanū ۚ 'Inna Allāha Kāna Bimā Ta`malūna Khabīrāan 004-094 Sikap berhati-hati dan waspada dalam perang agar tidak terjadi pembunuhan terhadap orang Muslim, adalah suatu keharusan. Apabila kalian pergi berperang di jalan Allah, maka telitilah terlebih dahulu siapa orang yang akan diperangi. Apakah mereka telah memeluk Islam, atau masih dalam keadaan musyrik. Janganlah kalian mengatakan, "Kamu bukan orang Muslim," kepada orang yang berucap salam atau isyarat damai, hanya karena kalian menginginkan harta rampasan. Terimalah ucapan salam perdamaian mereka. Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan harta yang banyak kepada kalian. Dan kalian, wahai orang-orang Mukmin, dulu juga berada dalam kekufuran, kemudian Allah menunjuki kalian. Maka telitilah orang-orang yang kalian temui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia akan mengadakan perhitungan dengan kalian sesuai dengan ilmu-Nya. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‌‌ ‍ ‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍‍‍‌ ‌ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍ ‍‌‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍ ‍ۚ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‍ ‍ ‍ۚ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‍‍
Lā Yastawī Al-Qā`idūna Mina Al-Mu'uminīna Ghayru 'Ūlī Ađ-Đarari Wa Al-Mujāhidūna Fī Sabīli Allāhi Bi'amwālihim Wa 'Anfusihim ۚ Fađđala Allāhu Al-Mujāhidīna Bi'amwālihim Wa 'Anfusihim `Alá Al-Qā`idīna Darajatan ۚ Wa Kullāan Wa`ada Allāhu Al-Ĥusná ۚ Wa Fađđala Allāhu Al-Mujāhidīna `Alá Al-Qā`idīna 'Ajan `Ažīmāan 004-095 Berjuang, yang disertai sikap hati-hati, mempunyai keutamaan yang sangat besar. Maka, tidaklah sama antara orang yang duduk berpangku tangan di rumah dan tidak ikut berperang, dengan orang yang berjuang dengan harta dan jiwa. Allah memberikan kepada orang-orang yang berjihad derajat yang lebih tinggi di atas orang-orang yang tidak ikut perang, kecuali bila ada uzur yang menghalangi mereka untuk berperang. Sebab, uzur itu membebaskan mereka dari celaan. Meskipun orang-orang yang berjihad mempunyai keutamaan dan derajat khusus, namun Allah tetap menjanjikan kepada masing-masing kelompok itu kedudukan dan balasan yang baik. ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍ ‌ ‌‌‌ۚ‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌‌‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ۚ‌ ‌‌ ۚ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‍‌‌ ‍‍‍
Darajātin Minhu Wa Maghfiratan Wa Raĥmatan ۚ Wa Kāna Allāhu Ghafūan Raĥīmāan 004-096 Begitu tingginya derajat itu, hingga seolah menjadi seperti sekumpulan beberapa derajat jika dibandingkan dengan derajat yang lain. Di samping itu, mereka masih akan memperoleh ampunan yang besar dan kasih sayang yang luas. ‌‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌‍ ۚ ‌‍‍‍ ‍‌‌‌ ‌‍
'Inna Al-Ladhīna Tawaffāhumu Al-Malā'ikatu Žālimī 'Anfusihim Qālū Fīma Kuntum ۖ Qālū Kunnā Mustađ`afīna Fī Al-'Arđi ۚ Qālū 'Alam Takun 'Arđu Allāhi Wāsi`atan Fatuhājirū Fīhā ۚ Fa'ūlā'ika Ma'wāhum Jahannamu ۖ Wa Sā'at Maşīrāan 004-097 Seorang Muslim berkewajiban untuk hijrah ke wilayah Islam demi menghindari hidup dalam kehinaan. Kepada mereka yang tidak berhijrah, malaikat akan bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kalian ini, hingga rela hidup tercela dan hina?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang tertindas di muka bumi dan orang-orang lain telah menghinakan kami." Malaikat bertanya lagi, "Bukankah bumi Allah sangat luas sehingga kalian dapat berhijrah ke berbagai tempat dan tidak lagi hidup dalam keadaan hina dan tercela?" Orang-orang yang rela hidup dalam keadaan hina, sedangkan mereka mampu untuk berhijrah, tempat kembalinya adalah neraka Jahanam. Dan Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali. Orang Muslim harus hidup mulia dan tidak terhina. ‍‍‍ ‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍ۖ ‌ ‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‌‍ ۚ ‍‍‌ ‌ ‍‌ ‌‌‍ ‍ ‌‌‌ ‌ ‌‌ ‌ ۚ ‍‍‌‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍ۖ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍
'Illā Al-Mustađ`afīna Mina Ar-Rijāli Wa An-Nisā' Wa Al-Wildāni Lā Yastaţī`ūna Ĥīlatan Wa Lā Yahtadūna Sabīlāan 004-098 Ketentuan ini tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak mampu berhijrah, baik orang-orang lemah, laki-laki, wanita atau anak-anak, yang memang tidak mempunyai kekuatan dan tidak mengetahui jalan keluar untuk berhijrah. Mereka telah dibebaskan dan diampuni dari siksa tersebut. ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‌‌ ‍‍‌
Fa'ūlā'ika `Asá Allāhu 'An Ya`fuwa `Anhum ۚ Wa Kāna Allāhu `Afūwāan Ghafūan 004-099 Mereka, mudah-mudahan, akan memperoleh ampunan. Allah memang sungguh Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. ‍‍‌‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‌‍‍ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌ ‍‌‌
Wa Man Yuhājir Fī Sabīli Allāhi Yajid Al-'Arđi Mughamāan Kathīrāan Wa Sa`atan ۚ Wa Man Yakhruj Min Baytihi Muhājirāan 'Ilá Allāhi Wa Rasūlihi Thumma Yudrik/hu Al-Mawtu Faqad Waqa`a 'Ajruhu `Alá Allāhi ۗ Wa Kāna Allāhu Ghafūan Raĥīmāan 004-100 Orang-orang yang berhijrah dengan tujuan membela kebenaran, akan menemukan banyak tempat di muka bumi ini dan terhindar dari tekanan dan kekerasan orang-orang yang memusuhi kebenaran. Mereka juga akan mendapatkan kebebasaan dan tempat tinggal yang mulia, di samping disediakan pahala yang besar. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah ke tempat yang mulia, yaitu negeri Allah dan rasul-Nya, kemudian mati sebelum sampai pada tempat tujuan, pahalanya telah ditetapkan. Allah berkuasa untuk memberikan pahala, ampunan dan rahmat-Nya, karena Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Pemberi rahmat. ‍‌‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‌‌ ‍‌ ‌ ۚ ‌‍‌‍‍ ‍‌‌‌‌ ‌‌ ‍ ‌‌‍ ‍‍‌ ‌‍‍ ‌ۗ ‌‍‍‍ ‍‌‌‌ ‌‍
Wa 'Idhā Đarabtum Al-'Arđi Falaysa `Alaykum Junāĥun 'An Taqşurū Mina Aş-Şalāati 'In Khiftum 'An Yaftinakumu Al-Ladhīna Kafarū ۚ 'Inna Al-Kāfirīna Kānū Lakum `Adūwāan Mubīnāan 004-101 Salat adalah suatu kewajiban yang kokoh dan tidak dapat gugur dengan alasan bepergian. Namun, meskipun tetap berkewajiban melaksanakan salat, seseorang yang sedang dalam perjalanan boleh memendekkan (mengqasar) salatnya. Maka, bila ada orang yang bepergian dan takut diserang oleh orang-orang kafir, ia boleh menyingkat salatnya, sehingga salat empat rakaat menjadi dua rakaat. Waspada terhadap orang-orang kafir adalah suatu keharusan, sebab mereka adalah musuh orang-orang Islam. ‌‌‌‌ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍‍‌‍‍‍ ‌‌ ‍ ‌‌ ‍‍‍ۚ ‍‍‍‌ ‌‌
Wa 'Idhā Kunta Fīhim Fa'aqamta Lahumu Aş-Şalāata Faltaqum Ţā'ifatun Minhum Ma`aka Wa Līa'khudhū 'Asliĥatahum Fa'idhā Sajadū Falyakūnū Min Warā'ikum Wa Lta'ti Ţā'ifatun 'Ukhrá Lam Yuşallū Falyuşallū Ma`aka Wa Līa'khudhū Ĥidhrahum Wa 'Asliĥatahum ۗ Wadda Al-Ladhīna Kafarū Law Taghfulūna `An 'Asliĥatikum Wa 'Amti`atikum Fayamīlūna `Alaykum Maylatan Wāĥidatan ۚ Wa Lā Junāĥa `Alaykum 'In Kāna Bikum 'Adhan Min Maţarin 'Aw Kuntum Marđá 'An Tađa`ū 'Asliĥatakum ۖ Wa Khudhū Ĥidhrakum ۗ 'Inna Allāha 'A`adda Lilkāfirīna `Adhābāan Muhīnāan 004-102 Ketika kamu, Rasulullah, sedang berada di tengah-tengah mereka, kemudian datang waktu salat, kalian harus tetap berhati-hati dan waspada terhadap musuh dengan mengelompokkan umat Islam ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama melakukan salat bersamamu, sedang yang lain berada di belakang sambil memegang senjata untuk berjaga-jaga. Bila kamu telah menyelesaikan separuh salat, kelompok pertama yang salat di belakangmu tadi mundur menggantikan posisi kelompok kedua, dan kelompok kedua maju untuk melakukan salat bersamamu. Kemudian, masing-masing kelompok menyempurnakan sendiri- sendiri rakaat yang belum dikerjakan. Kelompok pertama yang belum mengerjakan rakaat kedua disebut lhiqah dan kelompok kedua yang belum mengerjakan rakaat pertama disebut masbqah. (1) Ketentuan ini diambil demi ketertiban agar salat kalian tidak terlewatkan, dan untuk berjaga-jaga terhadap orang-orang kafir yang selalu menginginkan kalian lengah dan tidak memperhatikan senjata dan perlengkapan, lalu menyerbu kalian secara serentak ketika kalian sedang melaksanakan salat. Selain itu, ketentuan ini ditetapkan untuk menegaskan bahwa memerangi orang-orang musyrik tetap diwajibkan, meskipun pada waktu salat. Tetapi, jika kalian sakit, luka akibat perang, atau jika turun hujan lebat, kalian boleh "beristirahat" perang, dengan tidak melupakan kewaspadaan dan kehati-hatian. Itulah hukuman Allah di dunia bagi orang-orang kafir. Sedang di akhirat kelak, Allah telah menyiapkan bagi mereka siksa yang menghinakan. (1) Kelompok lhiqah adalah kelompok yang mengerjakan bagian awal salat bersama imam dan menunda bagian akhir dengan mengerjakannya sendiri. Sedang kelompok masbqah adalah kelompok yang melakukan bagian akhir salat secara berjamaah bersama imam dan mengerjakan bagian awalnya sendiri. ‌‌‌‌ ‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‌ ‌ ‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍‍‌ ‌‍‌‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‌‌ ‌‍ ‌‌ ۗ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍ ‌ ‌‌ ۚ ‌‌ ‍‍‍ ‌‌‍‍ ‌‌‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌‌‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌‌‍‍‍‍‌ ‌ ۖ ‌‍‍‌‌ ‌‍ ۗ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌
Fa'idhā Qađaytumu Aş-Şalāata Fādhkurū Allaha Qiyāmāan Wa Qu`ūdāan Wa `Alá Junūbikum ۚ Fa'idhā Aţma'nantum Fa'aqīmū Aş-Şalāata ۚ 'Inna Aş-Şalāata Kānat `Alá Al-Mu'uminīna Kitābāan Mawqūtāan 004-103 Apabila kalian selesai melaksanakan salat khauf, yaitu salat dalam situasi perang seperti di atas, jangan lupa berzikir kepada Allah. Berzikirlah kepada-Nya dalam keadaan berdiri, berperang, duduk dan tidur. Karena, zikir dengan menyebut nama Allah akan dapat memantapkan dan menenangkan hati. Jika rasa takut telah hilang, laksanakanlah salat dengan sempurna. Sebab, pada dasarnya, salat merupakan kewajiban umat Islam yang mempunyai waktu-waktu tertentu. ‌‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌‍‍‌‌‌ ‌‌ ۚ ‌‌‌ ‍‍‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍ۚ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‍
Wa Lā Tahinū Fī Abtighā'i Al-Qawmi ۖ 'In Takūnū Ta'lamūna Fa'innahum Ya'lamūna Kamā Ta'lamūna ۖ Wa Tarjūna Mina Allāhi Mā Lā Yarjūna ۗ Wa Kāna Allāhu `Alīmāan Ĥakīmāan 004-104 Jangan berhati lemah mengejar orang-orang kafir yang telah menyatakan perang terhadap kalian dan selalu berusaha mengintai dari setiap penjuru. Perang, memang, sungguh menyakitkan. Maka, kalau kalian merasa sakit dengan luka-luka perang yang kalian alami, mereka juga merasakan hal yang sama. Bedanya, mereka melakukan itu semua bukan untuk mencari kebenaran dan mengharapkan sesuatu dari Allah. Sedangkan kalian, orang-orang Mukmin, mekakukan itu semua demi mencari kebenaran dan mengharapkan perkenan Allah dan kenikmatan abadi, surga. Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian dan mereka perbuat, Mahabijaksana yang memberi balasan setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ‍‍‍‍‌‌ ‍‍ ۖ ‌‌ ‌ ‍‍‍ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ۖ ‌‍‍‍ ‍ ‌ ‌ ‍‍‍ ۗ ‌‍‍‍ ‍ ‌
'Innā 'Anzalnā 'Ilayka Al-Kitāba Bil-Ĥaqqi Litaĥkuma Bayna An-Nāsi Bimā 'Arāka Allāhu ۚ Wa Lā Takun Lilkhā'inīna Khaşīmāan 004-105 Kami telah menurunkan al-Qur'n kepadamu, Muhammad, dengan benar: mengandung dan menjelaskan segala kebenaran sampai hari kiamat. Al-Qur'n menjadi pedoman dalam memutuskan hukum di antara manusia. Tentukanlah hukum mereka--dengan berpedoman pada al-Qur'n-dan jangan kamu membela orang-orang yang berkhianat. ‌ ‌‌‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌‍‌ ۚ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍
Wa Astaghfiri Allāha ۖ 'Inna Allāha Kāna Ghafūan Raĥīmāan 004-106 Ketika kamu menentukan suatu putusan hukum, hadapkanlah dirimu kepada Allah, renungkan keagungan-Nya dan mintalah ampunan dan kasih sayang-Nya. Karena, sesungguhnya, ampunan dan kasih sayang adalah sifat-sifat Allah. ‌‍‍‍‍‌ ۖ ‍ ‍‍‍ ‍‌‌‌ ‌‍
Wa Lā Tujādil `Ani Al-Ladhīna Yakhtānūna 'Anfusahum ۚ 'Inna Allāha Lā Yuĥibbu Man Kāna Khawwānāan 'Athīmāan 004-107 Janganlah kamu membela orang-orang yang berkhianat dan selalu menyembunyikan pengkhianatannya dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berbuat khianat dan dosa. ‌ ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ۚ ‍ ‌ ‍‌‍‍ ‍‌‌ ‌
Yastakhfūna Mina An-Nāsi Wa Lā Yastakhfūna Mina Allāhi Wa Huwa Ma`ahum 'Idh Yubayyitūna Mā Lā Yarđá Mina Al-Qawli ۚ Wa Kāna Allāhu Bimā Ya`malūna Muĥīţāan 004-108 Di hadapan manusia, mereka dapat menyembunyikan khianat itu, tapi di hadapan Allah tidak demikian. Pengkhianatan mereka tak akan luput dari pengetahuan Allah, sebab Dia selalu mengawasi mereka. Mereka bersepakat, di malam hari, melakukan penganiayaan terhadap orang yang tak bersalah, sesuatu yang tidak diperkenankan oleh Allah. Allah Mahatahu segala sesuatu yang mereka kerjakan. ‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‍ ‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍ ‌ ‌ ‍‍‌ ‍‍ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍
Hā'antum Hā'uulā' Jādaltum `Anhum Al-Ĥayāati Ad-Dunyā Faman Yujādilu Allāha `Anhum Yawma Al-Qiyāmati 'Am Man Yakūnu `Alayhim Wa Kīlāan 004-109 Kalau di dunia ini kalian dapat membela mereka, sehingga mereka dapat terhindar dari siksa dunia, di akhirat kelak tidak akan ada yang dapat membela mereka di hadapan Allah. Bahkan, tidak akan ada pula yang siap menjadi pelindung dan penolong mereka. ‍‍‌‌‍ ‍‍‍‌‌‌ ‌ ‍‌‍‍‍‍ ‍‌‍‌ ‍‌‍ ‍‌‍‍‍ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‌‍‍
Wa Man Ya`mal Sū'āan 'Aw Yažlim Nafsahu Thumma Yastaghfiri Allāha Yajidi Allāha Ghafūan Raĥīmāan 004-110 Pintu tobat itu selalu terbuka lebar. Barangsiapa melakukan kejahatan atau menganiaya diri sendiri dengan melakukan maksiat, kemudian memohon ampun kepada Allah, Allah pasti akan menerima pertobatan itu dan akan mengampuni dosanya. Sebab, pengampunan dan kasih sayang merupakan sifat- sifat Allah. ‍‌‍‍‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌ ‍ ‌ ‍‌‌‌ ‌‍
Wa Man Yaksib 'Ithmāan Fa'innamā Yaksibuhu `Alá Nafsihi ۚ Wa Kāna Allāhu `Alīmāan Ĥakīmāan 004-111 Akibat buruk perbuatan dosa hanya akan kembali kepada pelakunya sendiri. Maka, barangsiapa berbuat dosa, berarti telah merugikan diri sendiri dan akan merasakan sendiri akibatnya. Allah Maha Mengetahui apa yang diperbuat orang itu dan akan memperlakukannya sesuai kebijakan-Nya. Allah bebas memberi siksa atau ampunan, sesuai kemahabijaksanaan-Nya. ‍‌ ‌‌‍‌ ‍ ‌ ‍ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌
Wa Man Yaksib Khaţī'atan 'Aw 'Ithmāan Thumma Yarmi Bihi Barī'āan Faqadi Aĥtamala Buhtānāan Wa 'Ithmāan Mubīnāan 004-112 Barangsiapa yang melakukan dosa lalu menuduh orang tak bersalah telah melakukannya, bagaikan orang yang mencuri sesuatu lalu menuduh orang lain yang melakukannya. Dengan begitu, orang itu telah melakukan dua dosa sekaligus: pertama, dosa karena bohong dan menuduh orang lain, dan, kedua, dosa karena perbuatan yang dilakukannya. ‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌‌‌ ‍‍‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‌
Wa Lawlā Fađlu Allāhi `Alayka Wa Raĥmatuhu Lahammat Ţā'ifatun Minhum 'An Yuđillūka Wa Mā Yuđillūna 'Illā 'Anfusahum ۖ Wa Mā Yađurrūnaka Min Shay'in ۚ Wa 'Anzala Allāhu `Alayka Al-Kitāba Wa Al-Ĥikmata Wa `Allamaka Mā Lam Takun Ta`lamu ۚ Wa Kāna Fađlu Allāhi `Alayka `Ažīmāan 004-113 Seandainya Allah tidak mengaruniakan wahyu kepadamu dan tidak menyayangimu dengan ketepatan daya pikirmu, tentu segolongan dari mereka bermaksud untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka itu tidak akan dapat menyesatkan siapa pun selain diri mereka sendiri, karena Allah selalu mengawasimu, dan akal pikiranmu selalu tertuju kepada kebenaran. Kesesatan dan rencana mereka tidak dapat mendatangkan mudarat sedikit pun kepadamu, karena Allah telah menurunkan al-Qur'n sebagai ukuran kebenaran, menanamkan sifat bijak di dalam hatimu, dan mengajarkanmu syariat dan ketentuan-ketentuan yang hanya dapat kamu ketahui melalui wahyu. Sungguh, karunia Allah kepadamu selamanya sangat besar. ‌ ‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌ۖ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌ۚ ‌‌‌‍ ‍‍‍‍‍ ‌ ‌ ‍‌ ۚ ‌‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‍‍
Khayra Fī Kathīrin Min Najwāhum 'Illā Man 'Amara Bişadaqatin 'Aw Ma`rūfin 'Aw 'Işlāĥin Bayna An-Nāsi ۚ Wa Man Yaf`al Dhālika Abtighā'a Marđāati Allāhi Fasawfa Nu'utīhi 'Ajan `Ažīmāan 004-114 Sesungguhnya omongan-omongan yang akan mereka bisikkan kepada diri mereka sendiri, atau kepada sesama mereka, kebanyakannya tidak baik. Sebab, kejahatan biasanya lahir dari bisikan-bisikan seperti itu. Tetapi, jika pembicaraan itu mengenai perintah mengeluarkan sedekah, mengenai rencana melakukan suatu perbuatan yang tidak dilarang, atau mengenai rencana perbaikan di antara sesama manusia, itu baik-baik saja. Barangsiapa melakukan hal itu demi mencari perkenan Allah, Dia pasti akan memberinya pahala yang besar atas perbuatannya itu, di dunia dan di akhirat. ‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‌ ‌‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ۚ ‌‍‌‍‍‍‍‌‌ ‍ ‍ ‍‍‍‍‍ ‌‍‌‌ ‍‍‍
Wa Man Yushāqiqi Ar-Rasūla Min Ba`di Mā Tabayyana Lahu Al-Hudá Wa Yattabi` Ghayra Sabīli Al-Mu'uminīna Nuwallihi Mā Tawallá Wa Nuşlihi Jahannama ۖ Wa Sā'at Maşīrāan 004-115 Barangsiapa menentang rasul sesudah melihat jelas jalan kebenaran dan petunjuk, mengikuti selain jalan yang ditempuh orang-orang Muslim dan masuk ke dalam perwalian musuh orang-orang Muslim, maka ia termasuk golongan mereka karena lebih memilih dan menjadikan mereka sebagai penolong. Allah akan memasukkannya ke dalam api nereka di hari kiamat. ‍‌ ‍‍ ‍‌ ‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍ ‌ ‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍ۖ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍
'Inna Allāha Lā Yaghfiru 'An Yushraka Bihi Wa Yaghfiru Mā Dūna Dhālika Liman Yashā'u ۚ Wa Man Yushrik Billāhi Faqad Đalla Đalālāan Ba`īdāan 004-116 Tempat kembali yang menyakitkan itu diperuntukkan bagi orang-orang seperti itu, karena mereka telah memusuhi Islam. Sikap memusuhi Islam sama dengan sikap menyekutukan Allah. Setiap dosa dapat diampuni kecuali dosa syirik, menyembah selain Allah dan menentang Rasulullah saw. Sebab, Allah memang bersifat pengampun kecuali terhadap dosa syirik. Dia akan mengampuni dosa selain syirik. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dalam beribadah dan perwalian, berarti telah sesat dan jauh dari kebenaran, karena merusak akal dan jiwanya. ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌ ‌‍‍‌ ‌ ‍‌‍‍‌‌ ۚ ‌‍‌‍ ‍‍‍‌ ‌
'In Yad`ūna Min Dūnihi~ 'Illā 'Ināthāan Wa 'In Yad`ūna 'Illā Shayţānāan Marīdāan 004-117 Tanda kesesatan paling jelas yang membuat seorang musyrik jauh dari kebenaran adalah bahwa ia beribadah kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar dan melihat, serta tidak dapat mendatangkan manfaat dan mudarat. Tanda lain adalah menamakan tuhan-tuhan palsu dengan nama perempuan seperti Lta, 'Uzz, Manh dan sebagainya. Dengan ibadah seperti itu, ia berarti telah mengikuti jejak langkah setan. ‍‍ ‍‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌‌‍‍ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍
La`anahu Allāhu ۘ Wa Qāla La'attakhidhanna Min `Ibādika Naşībāan Mafrūđāan 004-118 Setan itu sendiri telah diusir Allah dari naungan kasih sayang-Nya dan berada di jalan kesesatan. Setan telah bersumpah kepada dirinya sendiri untuk menggoda dan mengganggu sejumlah manusia. ۘ ‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌
Wa La'uđillannahum Wa La'umanniyannahum Wa La'āmurannahum Falayubattikunna 'Ādhāna Al-'An`ām Wa La'āmurannahum Falayughayyirunna Khalqa Allāhi ۚ Wa Man Yattakhidhi Ash-Shayţāna Walīyāan Min Dūni Allāhi Faqad Khasira Khusnāan Mubīnāan 004-119 Sumpah setan itu akan menyesatkan orang-orang yang berhasil digodanya dengan menjauhkan mereka dari kebenaran, dan merangsang nafsu mereka. Setan akan menyesatkan mereka dalam angan- angan kosong itu. Dengan hawa nafsu dan angan-angan kosong itu mereka berada dalam kekuasaannya. Mereka didorong kepada hal-hal yang tidak masuk akal dan mengiranya sebagai ibadah, padahal itu hanya kebohongan belaka. Selanjutnya setan mengganggu mereka supaya memotong telinga sebagian unta dan mengubah ciptaan Allah. Hewan yang dipotong telinganya itu tidak boleh disembelih dan dipekerjakan, dan harus dilepas mencari makan. Semua itu adalah perintah setan. Setan kemudian membisikkan bahwa semua itu adalah perintah agama. Jika mereka melakukan itu semua berarti mereka telah mengikuti setan dan menjadikannya sebagai penolong selain Allah. Barangsiapa menjadikan setan sebagai penolong, maka ia telah menderita kerugian yang nyata, karena telah sesat dari kebenaran dan tidak lagi menggunakan akal pikirannya, dan akan merasakan kerusakan di dunia dan siksa yang pedih di akhirat kelak. ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍ ‍ ‌‌‍‍‌ ‌‍‍ ‍‍‍ ‍‍ ۚ ‌‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍
Ya`iduhum Wa Yumannīhim ۖ Wa Mā Ya`iduhumu Ash-Shayţānu 'Illā Ghurūan 004-120 Bagi mereka, kejahatan menjadi tampak indah akibat tipuan setan. Mereka dijanjikan keuntungan kalau mau melakukan kejahatan itu. Mereka diberikan harapan-harapan kosong. Semua janji itu hanyalah tipu daya belaka. ‌‍‍‍ۖ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‌‌
'Ūlā'ika Ma'wāhum Jahannamu Wa Lā Yajidūna `Anhā Maĥīşāan 004-121 Orang-orang yang tidak menggunakan akal pikiran mereka dan mengikuti bisikan setan itu, tempat kembalinya adalah neraka Jahanam. Mereka tidak akan dapat menyelamatkan diri dari siksa itu. ‍‍‌‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍
Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti Sanudkhiluhum Jannātin Tajrī Min Taĥtihā Al-'Anhāru Khālidīna Fīhā 'Abadāan ۖ Wa`da Allāhi Ĥaqqāan ۚ Wa Man 'Aşdaqu Mina Allāhi Qīlāan 004-122 Neraka Jahanam itu adalah tempat kembali orang yang mengikuti jejak langkah setan. Sedangkan tempat kembali orang yang mengikuti jalan Allah adalah kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh, dan tidak tertipu oleh angan-angan kosong. Di hari kiamat kelak, mereka akan dimasukkan ke dalam surga yang dialiri bermacam-macam sungai. Surga itu jauh lebih besar dari taman-taman yang ada di dunia. Hal itu pasti akan terbukti, karena merupakan janji Allah. Dan janji Allah selalu benar, karena Dialah yang memiliki segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang perkataan dan janjinya melebihi ketepatan perkataan dan janji Allah. ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌ۖ ‌‌ ‍ ‍‍‍ۚ ‌‍‌ ‌‍‍‍
Laysa Bi'amānīyikum Wa Lā 'Amānīyi 'Ahli Al-Kitābi ۗ Man Ya`mal Sū'āan Yujza Bihi Wa Lā Yajid Lahu Min Dūni Allāhi Walīyāan Wa Lā Naşīrāan 004-123 Pahala tidak mungkin diperoleh dengan impian dan angan-angan manusia tanpa melakukan perbuatan baik. Pahala juga tidak akan kalian peroleh, wahai umat Islam, hanya dengan angan-angan kosong. Begitu juga, tidak dapat diperoleh dengan angan-angan kosong Ahl al-Kitb: Yahudi dan Nasrani. Pahala dan keselamatan dari siksa hanya dapat diperoleh melalui iman dan amal saleh. Maka, barangsiapa melakukan kejahatan, niscaya akan mendapat balasannya dan ia tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah. ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‌ ‍‍ ۗ ‍‌‍‍‌‌‌ ‍‍‍‍‌ ‍ ‌‌ ‍‌ ‍ ‍‌‍‍‌ ‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍
Wa Man Ya`mal Mina Aş-Şāliĥāti Min Dhakarin 'Aw 'Unthá Wa Huwa Mu'uminun Fa'ūlā'ika Yadkhulūna Al-Jannata Wa Lā Yužlamūna Naqīrāan 004-124 Barangsiapa mengerjakan amal saleh sesuai dengan kemampuannya dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka akan masuk surga dan tidak akan dikurangi derajatnya walau sedikit pun. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, karena perempuan juga dibebankan tugas-tugas keagamaan (mukallafah), yang berhak mendapat pahala kebaikan dan siksa kejahatan. ‍‌ ‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌ ‌‌‌ ‌‌‍‌ ‌‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍
Wa Man 'Aĥsanu Dīnāan Mimman 'Aslama Wajhahu Lillāh Wa Huwa Muĥsinun Wa Attaba`a Millata 'Ibhīma Ĥanīfāan Wa Attakhadha ۗ Allāhu 'Ibhīma Khalīlāan 004-125 Sesungguhnya dasar berbuat baik adalah keyakinan yang benar. Sikap beragama yang paling baik adalah ikhlas bribadah hanya kepada Allah. Wajah, pikiran dan jiwa hanya diarahkan kepada Allah semata. Tidak ada yang diharapkan selain perkenan-Nya. Orang yang berbuat demikian, pikirannya akan benar hingga dapat mengetahui misi para rasul. Selain itu, termasuk sikap beragama yang baik juga, adalah mengerjakan perbuatan-perbuatan baik secara terus menerus, dengan mengikuti ajaran Nabi Ibrhm a. s., bapak para nabi. Agama yang dibawanya adalah agama yang berasal dari Allah, yaitu agama yang memiliki semangat pencarian kebenaran. Pada diri Ibrhm terdapat titik temu agama antara umat Islam, Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, ikutilah agamanya. Sesungguhnya Allah telah memuliakan Ibrhm dengan menamakannya sebagai khall (kesayangan). ‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‍‌ ‌ ‌‍‍ ‌‌ ‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍ۗ‍‍‍‌ ‍ ‌‍‍‌‍‍‍‍
Wa Lillāh Mā Fī As-Samāwāti Wa Mā Fī Al-'Arđi ۚ Wa Kāna Allāhu Bikulli Shay'in Muĥīţāan 004-126 Sikap ikhlas berserah diri kepada Allah berarti ikhlas kepada Pencipta dan Pemilik alam semesta. Semua apa yang ada di langit dan di bumi, bintang, planet, matahari, bulan, gunung, jurang, padang pasir dan sawah ladang adalah milik Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang diperbuat manusia dan Dialah yang akan memberi balasannya sesuai dengan baik dan buruknya perbuatan itu. Perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan dan perbuatan buruk akan dibalas dengan keburukan pula. ‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‍ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‍‌ ‍‍‍
Wa Yastaftūnaka Fī An-Nisā' ۖ Quli Allāhu Yuftīkum Fīhinna Wa Mā Yutlá `Alaykum Al-Kitābi Fī Yatāmá An-Nisā' Al-Lātī Lā Tu'utūnahunna Mā Kutiba Lahunna Wa Targhabūna 'An Tankiĥūhunna Wa Al-Mustađ`afīna Mina Al-Wildāni Wa 'An Taqūmū Lilyatāmá Bil-Qisţi ۚ Wa Mā Taf`alū Min Khayrin Fa'inna Allāha Kāna Bihi `Alīmāan 004-127 Orang-orang meminta fatwa kepadamu, Muhammad, tentang wanita-wanita yang masih dalam keadaan lemah. Allah menjelaskan kepadamu untuk menerangkan mereka mengenai wanita, anak-anak kecil dan anak-anak yatim yang masih dipandang lemah di dalam keluarga. Wanita-wanita yatim yang dikawin dan tidak mengambil maskawinnya, anak-anak kecil dan anak-anak yatim, mereka semua harus diperlakukan secara adil, penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan yang diperbuat dan Dia yang akan memberi balasannya. ‍‍‍‍‌‌ ۖ ‍ ‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‌‌ ‍ ‌ ‍ ‌ ‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌‌‍‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ۚ ‌‌ ‌ ‍‌ ‍‍‍‌ ‍ ‍‍‍
Wa 'Ini Amra'atun Khāfat Min Ba`lihā Nushūzāan 'Aw 'I`đāan Falā Junāĥa `Alayhimā 'An Yuşliĥā Baynahumā Şulĥāan Wa ۚ Aş-Şulĥu Khayrun ۗ Wa 'Uĥđirati Al-'Anfusu Ash-Shuĥĥa ۚ Wa 'In Tuĥsinū Wa Tattaqū Fa'inna Allāha Kāna Bimā Ta`malūna Khabīrāan 004-128 Jika seorang istri khawatir akan sikap ketidakpedulian suaminya terhadap urusan keluarga atau sikap tak acuh terhadap dirinya, maka mereka boleh mengadakan perbaikan dan pendekatan secara baik-baik. Suami atau istri yang mengerti adalah yang memulai upaya damai itu. Dan cara damai itu selalu baik. Sebenarnya yang menghalangi terciptanya kedamaian di antara suami istri adalah sikap keras masing- masing pihak dalam mempertahankan haknya secara utuh karena dikuasai oleh sikap kikir. Tidak ada jalan untuk mengembalikan cinta kasih mereka kecuali jika salah satu pihak bersedia melepas sebagian haknya. Ia, yang bersedia melepas sebagian haknya itu, adalah orang yang berbuat baik dan bertakwa. Barangsiapa mengerjakan kebaikan dan bertakwa kepada Allah, maka Allah Maha Mengetahui segala amal perbuatan dan akan memberi balasannya. ‍ ‍‌ ‌ ‌‌‌ ‌‌‌ ‌‍‍‌‌ ‌ ‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‌ ‌ ۚ‍‍‍‍ۗ ‌‌‍‍‍ ۚ ‌‌‌ ‌ ‌‍‍‍ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‍‍
Wa Lan Tastaţī`ū 'An Ta`dilū Bayna An-Nisā' Wa Law Ĥaraştum ۖ Falā Tamīlū Kulla Al-Mayli Fatadharūhā Kālmu`allaqati ۚ Wa 'In Tuşliĥū Wa Tattaqū Fa'inna Allāha Kāna Ghafūan Raĥīmāan 004-129 Bersikap adil terhadap istri dengan selalu mencintainya dan selalu saling memberi, adalah sesuatu yang tidak selamanya dapat dicapai. Begitu juga bersikap adil kepada istri-istri, kalau suami memiliki lebih dari satu istri, tidak selamanya dapat dicapai. Tetapi, apabila kalian tetap ingin memiliki lebih dari satu istri, maka jangan menyakiti salah seorang istri dengan lebih cenderung kepada yang lain. Jangan biarkan dirinya "menggantung": tidak bersuami dan juga tidak dicerai. Kalian berkewajiban memperbaiki diri, membangun rumah tangga atas dasar perbaikan, bukan perusakan, dan bertakwa kepada Allah. Allah tentu akan mengampuni dosa kalian dan akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian, karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ‍‌‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌‌ ‌‌ ‍ۖ‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍ۚ ‌‌‌‍‍‌ ‌‍‍‍ ‍ ‍‍‍ ‍‌‌‌ ‌‍
Wa 'In Yatafarraqā Yughni Allāhu Kullā Min Sa`atihi ۚ Wa Kāna Allāhu Wāsi`āan Ĥakīmāan 004-130 Jika jalan perbaikan tidak dapat ditempuh, sedang kalian telah mengambil keputusan cerai, maka cerai itu harus terjadi. Jika suami istri itu bercerai, niscaya Allah akan melimpahkan keluasan kasih sayang-Nya kepada masing-masing pihak. Rezeki berada di tangan Allah. Rahmat dan karunia-Nya sungguh amat luas, dan Dia Mahabijaksana yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. ‌‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‌ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌‌
Wa Lillāh Mā Fī As-Samāwāti Wa Mā Fī Al-'Arđi ۗ Wa Laqad Waşşaynā Al-Ladhīna 'Ūtū Al-Kitāba Min Qablikum Wa 'Īyākum 'Ani Attaqū Allaha ۚ Wa 'In Takfurū Fa'inna Lillāh Mā Fī As-Samāwāti Wa Mā Fī Al-'Arđi ۚ Wa Kāna Allāhu Ghanīyāan Ĥamīdāan 004-131 Inti sikap beragama adalah tunduk dan taat kepada Pencipta alam yang Mahaagung dan Mahamulia dan mengakui kekuasaan-Nya yang mutlak. Hanya milik Allahlah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dengan kekuasaan-Nya yang mutlak, Allah berkata, "Kami telah mewasiatkan kepada pemeluk agama- agama samawi dari golongan Ahl al-Kitb--termasuk juga kalian, umat Islam--untuk selalu takut dan beribadah kepada-Nya, dan tidak kufur. Dialah satu-satunya pemilik kekuasaan terbesar di langit dan di bumi. Dengan kekuasaan Allah, tidak ada sesuatu pun yang tampak ganjil. Dia Mahakaya, tidak membutuhkan kalian. Tetapi, meskipun demikian, Dia selalu memuji keimanan kalian. Dia memang tidak membutuhkan apa-apa tetapi selalu memuji kebajikan yang dilakukan hamba-hamba-Nya ‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‍ ۗ ‌‍‍‍‌ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍ۚ ‌‌‌ ‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‍ ۚ ‌‍‍‍ ‍‌ ‌
Wa Lillāh Mā Fī As-Samāwāti Wa Mā Fī Al-'Arđi ۚ Wa Kafá Billāhi Wa Kīlāan 004-132 Hanya Allahlah yang mengatur semua yang ada di langit dan di bumi. Dialah Penguasa, Penggerak dan Pengatur segalanya. Cukuplah Allah sebagai penguasa alam semesta agar dapat berjalan dengan tertib, dan penguasa manusia agar mereka menyembah, bertakwa dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya. ‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‍ ۚ ‌‌ ‍‍ ‌
'In Yasha' Yudh/hibkum 'Ayyuhā An-Nāsu Wa Ya'ti Bi'ākharīna ۚ Wa Kāna Allāhu `Alá Dhālika Qadīrāan 004-133 Kalian, wahai umat manusia, berada di bawah kekuasaan Allah. Dia Mahakuasa dan Maha Penakluk. Jika Allah berkehendak, niscaya Dia akan mematikan kalian kemudian menciptakan yang lain. Dia Mahaagung lagi Mahakuasa untuk berbuat demikian. Juga Mahakuasa atas segala sesuatu. ‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌ ‌ ‍‍
Man Kāna Yurīdu Thawāba Ad-Dunyā Fa`inda Allāhi Thawābu Ad-Dunyā Wa Al-'Ākhirati ۚ Wa Kāna Allāhu Samī`āan Başīrāan 004-134 Barangsiapa mengharap kenikmatan dan manfaat dunia yang halal melalui jalan yang benar, Allah akan memberinya kenikmatan dunia dan akhirat sekaligus. Karena Dialah satu-satunya yang memiliki kedua kenikmatan itu." ‍‌‍‍‍‍‍‍‌ ‍‍‌ ‍‌‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‌ ‍‌‍‌ ‌‍‍ ۚ ‌‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Kūnū Qawwāmīna Bil-Qisţi Shuhadā'a Lillāh Wa Law `Alá 'Anfusikum 'Awi Al-Wālidayni Wa Al-'Aqrabīna ۚ 'In Yakun Ghanīyāan 'Aw Faqīrāan Fa-Allāhu 'Awlá Bihimā ۖ Falā Tattabi`ū Al-Hawá 'An Ta`dilū ۚ Wa 'In Talwū 'Aw Tu`riđū Fa'inna Allāha Kāna Bimā Ta`malūna Khabīrāan 004-135 Keadilan adalah sistem kehidupan yang tidak dipertentangkan lagi. Dari itu, wahai orang-orang yang patuh dan tunduk kepada Allah dan seruan rasul-Nya, biasakanlah dirimu dan orang lain--dalam upaya mematuhi prinsip keadilan--untuk selalu tunduk kepada keadilan. Berbuat adillah terhadap orang-orang yang teraniaya. Jadilah kalian semua penegak keadilan, bukan karena menyukai orang kaya atau mengasihi orang miskin. Karena Allahlah yang menjadikan seseorang kaya dan miskin, dan Dia lebih tahu kemaslahatannya. Sesungguhnya hawa nafsu itu telah menyimpang dari kebenaran, maka janganlah kalian mengikutinya, supaya kalian dapat berlaku adil. Jika kalian bepaling atau enggan menegakkan keadilan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan dan akan memberi balasannya. Yang baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang buruk akan dibalas dengan keburukan pula. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‍‍‌‌‌ ‌‌ ‍‌ ‌‌‍ ‌‌‌ ‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍ۚ ‌‌ ‍‌ ‍‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‌‌‌ ‌‌‌ ‌ ۖ‌ ‌‌ ۚ ‌‌‌ ‌ ‌‌‌ ‍‍‍ ‍ ‍‍‍ ‌ ‍‍‍ ‍‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū 'Āminū Billāhi Wa Rasūlihi Wa Al-Kitābi Al-Ladhī Nazzala `Alá Rasūlihi Wa Al-Kitābi Al-Ladhī 'Anzala Min Qablu ۚ Wa Man Yakfur Billāhi Wa Malā'ikatihi Wa Kutubihi Wa Rusulihi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri Faqad Đalla Đalālāan Ba`īdāan 004-136 Risalah-risalah samawi pada hakikatnya adalah satu, karena yang mengutus para rasul hanya satu pula: Allah Swt. Maka tunduklah, wahai orang-orang yang beriman, kepada Allah dan ikhlaskan dirimu kepada-Nya. Percayalah kepada Nabi Muhammad dan apa yang dibawa dalam al-Qur'n yang diturunkan kepadanya, dan laksanakanlah. Percayalah kepada kitab-kitab suci yang turun sebelumnya seperti saat diturunkan tanpa penyelewengan dan kealpaan. Barangsiapa yang ingkar kepada Allah, Sang Pencipta, malaikat, alam gaib, kitab-kitab Allah dan rasul-rasul-Nya, serta hari akhir, maka ia telah tersesat dari jalan yang benar dan berada dalam jalan kesesatan. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌ ‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍ ‌‌‍ ‍‌ ‍‍ۚ ‌‍‌ ‌ ‍‍ ‌‍ ‌‍ ‌‌‍ ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‌
'Inna Al-Ladhīna 'Āmanū Thumma Kafarū Thumma 'Āmanū Thumma Kafarū Thumma Azdādū Kufan Lam Yakuni Allāhu Liyaghfira Lahum Wa Lā Liyahdiyahum Sabīlāan 004-137 Iman berarti tunduk secara mutlak dan mengerjakan kebenaran secara terus menerus. Maka, orang yang ragu-ragu bukan termasuk orang yang beriman. Orang-orang yang beriman lalu kufur, kemudian beriman dan kembali lagi kepada kekufuran, maka hal itu hanya akan menambah kekufuran mereka. Allah tidak akan mengampuni kejahatan yang telah mereka perbuat dan tidak pula memberi mereka petunjuk ke jalan yang benar. Allah akan mengampuni orang-orang yang bertobat dan menjauhi kejahatan, dan akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang selalu mencari kebenaran. ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌ ‍‌ ‍‌ ‍ ‌‌‌‌‌‌ ‌‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌
Bashshiri Al-Munāfiqīna Bi'anna Lahum `Adhābāan 'Alīmāan 004-138 Wahai Rasulullah, berilah peringatan kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih di hari kiamat kelak. ‍‍‍‍ ‌‌ ‌
Al-Ladhīna Yattakhidhūna Al-Kāfirīna 'Awliyā'a Min Dūni Al-Mu'uminīna ۚ 'Ayabtaghūna `Indahumu Al-`Izzata Fa'inna Al-`Izzata Lillāh Jamī`āan 004-139 Mereka memberikan kekuasaan dan perwalian mereka kepada orang-orang kafir, bukan kepada orang-orang Mukmin. Apakah mereka mengharapkan kejayaan dan bangga dengan orang-orang kafir itu? Kejayaan hanya milik Allah yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Barangsiapa mencari kejayaan dan bangga dengan Allah, akan jaya. Sebaliknya, barangsiapa mencari kejayaan dan bangga dengan selain Allah maka akan hina. ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‌‌ ‍‌‍‍‌ ‍‍‍ۚ ‌‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍
Wa Qad Nazzala `Alaykum Al-Kitābi 'An 'Idhā Sami`tum 'Āyāti Allāhi Yukfaru Bihā Wa Yustahza'u Bihā Falā Taq`udū Ma`ahum Ĥattá Yakhūđū Fī Ĥadīthin Ghayrihi~ ۚ 'Innakum 'Idhāan Mithluhum ۗ 'Inna Allāha Jāmi`u Al-Munāfiqīna Wa Al-Kāfirīna Fī Jahannama Jamī`āan 004-140 Allah telah menurunkan al-Qur'n kepada kalian. Setiap kali kalian mendengar ayat al-Qur'n dibacakan, di antara kalian ada yang mempercayainya dan ada juga yang mengingkari dan mengolok- oloknya. Kalau demikian keadaan orang-orang kafir dan munafik, dan kalian sendiri mendengar olok-olok mereka, janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka berbicara yang lain. Karena, kalau tidak, kalian akan menjadi seperti mereka yang mengolok-olok al-Qur'n itu. Sesungguhnya orang-orang kafir dan munafik akan mendapat siksa yang amat pedih, karena Allah akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat di neraka Jahanam. ‍‍ ‌‌ ‌‌‌‌ ‌‍‍‍ ‍ ‌ ‌ ‌‌‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‌‌ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ۚ‍ ‌‌‌ۗ ‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍‍ ‍‍‍
Al-Ladhīna Yatarabbaşūna Bikum Fa'in Kāna Lakum Fatĥun Mina Allāhi Qālū 'Alam Nakun Ma`akum Wa 'In Kāna Lilkāfirīna Naşībun Qālū 'Alam Nastaĥwidh `Alaykum Wa Namna`kum Mina Al-Mu'uminīna ۚ Fa-Allāhu Yaĥkumu Baynakum Yawma Al-Qiyāmati ۗ Wa Lan Yaj`ala Allāhu Lilkāfirīna `Alá Al-Mu'uminīna Sabīlāan 004-141 Orang-orang munafik itu selalu menunggu-nunggu seperti orang dengki yang selalu menunggu- nunggu dan mengharapkan agar kalian mendapatkan musibah dan mati terbunuh jika kalian berperang melawan musuh. Jika kalian mendapat kemenangan dari Allah menuju jalan yang benar, mereka berkata kepada orang-orang Mukmin, karena kemenangan itu telah menghinakan mereka dan Allah telah menolong orang-orang yang beriman, "Bukankah kami bersama kalian dan termasuk kelompok kalian?" Tetapi, jika orang-orang kafir mendapat kemenangan, mereka berkata, "Bukankah kami turut memenangkan kalian dan kami telah memberikan kasih sayang kami kepada kalian serta membela kalian dari orang-orang Mukmin?" Allah akan memberi keputusan di antara kalian dan orang-orang munafik pada hari kiamat. Dia sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin selama orang-orang Mukmin tetap beriman dan mengerjakan amal saleh. ‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‍‍‌ ‌ ‍‌ ‌‌‌‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‍‍‌‍‍‌ ‌ ‌‌ ‌ ‍‍‍ۚ ‍‍ۗ ‌‍‌‍‍‍ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍
'Inna Al-Munāfiqīna Yukhādi`ūna Allāha Wa Huwa Khādi`uhum Wa 'Idhā Qāmū 'Ilá Aş-Şalāati Qāmū Kusālá Yurā'ūna An-Nāsa Wa Lā Yadhkurūna Allāha 'Illā Qalīlāan 004-142 Sesungguhnya orang-orang munafik, dengan kemunafikannya, telah mengira bahwa mereka akan dapat menipu Allah dan menyembunyikan hakikat diri mereka dari-Nya. Allahlah yang akan membalas tipuan mereka. Allah akan mebiarkan mereka bergelimang dalam kejahatan dan akan membuat perhitungan terhadap apa yang mereka perbuat. Orang-orang munafik itu mempunyai ciri lahir dan ciri batin. Yang pertama tampak pada sikap bermalas-malasan dalam melaksanakan salat. Salatnya itu hanya dimaksudkan untuk riya, bukan salat yang sebenarnya. Sedang yang kedua, ciri batin, tampak pada sedikitnya berzikir kepada Allah. Karena jika mereka selalu menyebut Allah, niscaya mereka akan meninggalkan kemunafikannya. ‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍‌‍‍‍ ‍ ‌‌ ‍‌ ‌‌‌‌‌ ‍‍‌ ‌‌ ‍‍‌ ‌ ‍‍‌‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‌ ‍ ‌‌
Mudhabdhabīna Bayna Dhālika Lā 'Ilá Hā'uulā' Wa Lā 'Ilá Hā'uulā' ۚ Wa Man Yuđlili Allāhu Falan Tajida Lahu Sabīlāan 004-143 Orang-orang munafik berada dalam keragu-raguan: tidak termasuk kelompok kalian dan juga tidak sepenuhnya termasuk kelompok kafir. Hal itu akibat lemahnya iman dan jiwa mereka, di samping akibat kesesatan mereka dari kebenaran. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan untuk memberi petunjuk baginya. ‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‌‌‌ ۚ ‌‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‍
Yā 'Ayyuhā Al-Ladhīna 'Āmanū Lā Tattakhidhū Al-Kāfirīna 'Awliyā'a Min Dūni Al-Mu'uminīna ۚ 'Aturīdūna 'An Taj`alū Lillāh `Alaykum Sulţānāan Mubīnāan 004-144 Di antara faktor penyebab kemunafikan adalah menjadikan orang-orang yang tidak beriman sebagai pemimpin dan penolong. Oleh karena itu, jauhilah hal semacam ini, wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kalian menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong yang memiliki kekuasaan dan kalian taati. Jika kalian melakukan hal itu, maka Allah mempunyai alasan yang jelas untuk menghukum kalian. Sehingga, dengan demikian, kalian termasuk ke dalam golongan orang-orang munafik dan akan menjadi hina. Sebab, kalian tidak meminta pertolongan dan kejayaan dari Allah, kebenaran, dan amal saleh. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ‍‍‍‍‌‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‌‌ ‍‌‍‍‌ ‍‍‍ۚ ‌‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‍
'Inna Al-Munāfiqīna Fī Ad-Darki Al-'Asfali Mina An-Nāri Wa Lan Tajida Lahum Naşīrāan 004-145 Sesungguhnya orang-orang munafik berada di dalam neraka Jahanam yang paling dalam akibat kemunafikan mereka. Mereka berada di bagian terendah neraka. Dan kamu, Muhammad, tidak akan menemukan penolong yang dapat melindungi mereka dari siksa neraka. ‍‍‍‍‍‌ ‍‍‍‍‍‍‌ ‌‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍
'Illā Al-Ladhīna Tābū Wa 'Aşlaĥū Wa A`taşamū Billāhi Wa 'Akhlaşū Dīnahum Lillāh Fa'ūlā'ika Ma`a Al-Mu'uminīna ۖ Wa Sawfa Yu'uti Allāhu Al-Mu'uminīna 'Ajan `Ažīmāan 004-146 Kecuali sebagian mereka yang bertobat, kembali ke jalan Allah, berpegang teguh, ikhlas berserah diri kepada-Nya dan mengerjakan amal saleh. Dengan demikian, mereka termasuk orang-orang Mukmin dan akan menerima pahala seperti yang akan mereka dapatkan. Allah telah menyediakan bagi orang-orang Mukmin balasan yang sangat besar di dunia dan di akhirat. ‍‍‍‌ ‌‌‍‌ ‌‍‍‌ ‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‌ ‌ ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‍ۖ ‌‍ ‍‍‍‍ ‌‍‌‌ ‍‍‍
Mā Yaf`alu Allāhu Bi`adhābikum 'In Shakartum Wa 'Āmantum ۚ Wa Kāna Allāhu Shākirāan `Alīmāan 004-147 Allah hanya menuntut kalian untuk beriman dan bersyukur atas nikmat-Nya. Jika kalian lakukan itu, niscaya kalian tidak akan merasakan siksa. Kalian bahkan akan mendapatkan pahala atas kebaikan dan kesyukuran kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri perbuatan baik hamba-Nya dan Maha Mengetahui segala kebaikan dan keburukan mereka. ‍ ‌ ‌‌ ‌‌‍‌‍‍ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‍‌‌
Lā Yuĥibbu Allāhu Al-Jahra Bis-Sū'i Mina Al-Qawli 'Illā Man Žulima ۚ Wa Kāna Allāhu Samī`āan `Alīmāan 004-148 Allah melarang hamba-Nya untuk berkata buruk, kecuali orang yang dianiaya. Ia boleh memaparkan dan mengungkapkan keburukan orang yang menganiayanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar ucapan orang yang dianiaya dan Maha Mengetahui kezaliman orang yang menganiaya. Dia akan memberi balasan yang setimpal terhadap apa yang dilakukannya. (1) (1) Hukum positif melarang seseorang untuk mengucapkan perkataan buruk secara terang-terangan di hadapan orang lain dengan alasan untuk melindungi pendengaran dan moral manusia dari hal-hal yang dapat merusak dan menyakitkan. Sebab, ucapan buruk dapat menyakiti hati orang yang menjadi obyeknya. Dalam hal ini al-Qur'n mengatakan l yuhibb-u Allh-u al-jahr-a bi al-s' min al-qawl yang berarti 'Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan secara terus terang'. Seandainya ayat itu berhenti sampai kata al-s' 'keburukan', 'kejahatan' saja, sehingga ayat itu berbunyi l yuhibb-u Allh-u al-jahr-a bi al-s', maka pengertiannya tidak hanya mencakup kejahatan yang dilakukan dengan kata-kata, tetapi mencakup juga kejahatan yang dilakukan dengan perbuatan secara terus terang seperti membuka aurat di tempat umum, atau membuka pakaian wanita supaya terlihat auratnya. Pembatasan kejahatan pada ayat ini hanya pada bentuk ucapan atau kata-kata, mengindikasikan adanya larangan mengenai kejahatan dalam bentuk lain. Dan, memang, kejahatan dalam bentuk lain disinggung pada ayat lain, yaitu ayat ke-19 surat al-Nr yang artinya berbunyi 'Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan tersiarnya berita amat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, akan mendapatkan siksa yang pedih di dunia dan akhirat'. Pembicaraan mengenai hal ini akan diterangkan lagi pada kesempatan lain, menyangkut apa yang dalam hukum positif disebut dengan berbagai istilah, seperti menghina, mencela, menuduh dan sebagainya. Juga termasuk terbebasnya pelaku tindakan menghina dan menuduh dari hukuman apabila tindakannya itu merupakan reaksi atas orang lain yang menghina dan menuduhnya. Oleh karena itu, ayat ini dilanjutkan dengan ill man zhulim 'kecuali bagi orang yang dizalimi'. Berdasarkan pengecualian ini, orang yang teraniaya boleh mengucapkan kata-kata buruk semacam celaan dengan terus terang selama tidak dilakukan secara berlebihan dan melampaui batas. Ayat ini tidak menyebutkan secara khusus bentuk aniaya dalam pengecualian 'kecuali orang yang dizalimi' tadi, tidak seperti pada kejahatan yang disebut pada awal ayat yang hanya terbatas pada kejahatan kata-kata. Tidak adanya pembatasan bentuk aniaya ini mengindikasikan bahwa aniaya itu mencakup perkataan dan perbuatan, sehingga balasan terhadap tindak kezaliman seperti itu dapat dimaafkan dan pelakunya tidak terkena sanksi. Termasuk juga orang yang dirampas hartanya. Makna lahir ayat ini bahwa barangsiapa dizalimi atau dimusuhi dengan perkataan atau perbuatan kemudian membalasnya dengan caci maki, maka ia tidak berdosa. Ayat berikutnya berusaha mencegah timbulnya sikap ekstrim dalam memahami alasan pembalasan tersebut dengan menyatakan bahwa memafkan suatu kejahatan itu lebih baik daripada membalasnya dengan bentuk kejahatan lain, supaya tidak timbul kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Arti ayat itu berbunyi 'Jika kalian menampakkan atau menyembunyikan kebaikan atau memaafkan suatu kejahatan, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Kuasa'. ‌ ‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍ ‌‌ ‍‌ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌
'In TubKhayan 'Aw Tukhfūhu 'Aw Ta`fū `An Sū'in Fa'inna Allāha Kāna `Afūwāan Qadīrāan 004-149 Jika kalian menampakkan atau menyembunyikan kebaikan, atau memaafkan orang yang berbuat tidak baik kepada kalian, Allah pasti akan melimpahkan pahala karena kalian beretika dengan etika ketuhanan, yaitu memberi maaf meskipun pada saat mampu untuk tidak memaafkan. Sesungguhnya Allah Mahabesar ampunan-Nya dan Mahasempurna kekuasaan-Nya. ‍‍‍‌‍‌‌ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌‌ ‌ ‍‌‍‍‌‌ ‍ ‍‍‍ ‌‌‍‍
'Inna Al-Ladhīna Yakfurūna Billāhi Wa Rusulihi Wa Yurīdūna 'An Yufarriqū Bayna Allāhi Wa Rusulihi Wa Yaqūlūna Nu'uminu Biba`đin Wa Nakfuru Biba`đin Wa Yurīdūna 'An Yattakhidhū Bayna Dhālika Sabīlāan 004-150 Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara beriman kepada Allah dan beriman kepada rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian rasul dan tidak beriman kepada sebagian yang lain," (berarti hanya beriman kepada nabi-nabi tertentu yang mereka cintai dan tidak beriman kepada yang lain yang mereka benci) padahal seharusnya mereka beriman kepada semuanya, karena iman itu tidak mengenal pemisahan, ‍‍‍‍‍‌‍ ‌‌‍ ‌‍‍‍‌ ‌‌‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‌ ‌‍‍‍‌ ‌‌‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍ ‌
'Ūlā'ika Humu Al-Kāfirūna Ĥaqqāan ۚ Wa 'A`tadnā Lilkāfirīna `Adhābāan Muhīnāan 004-151 mereka adalah orang-orang yang bergelimang dalam kekufuran yang jelas. Sesungguhnya Allah benar- benar akan menyediakan siksa yang pedih bagi mereka dan orang-orang yang seperti mereka. ‍‍‌‍‍‍ ‍‍‌‍‍ۚ ‌‌‍‌ ‍‍‍‍‍ ‌
Wa Al-Ladhīna 'Āmanū Billāhi Wa Rusulihi Wa Lam Yufarriqū Bayna 'Aĥadin Minhum 'Ūlā'ika Sawfa Yu'utīhim 'Ujūrahum ۗ Wa Kāna Allāhu Ghafūan Raĥīmāan 004-152 Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan tidak mendustakan salah satu dari mereka, maka Allah akan memberi pahala yang besar atas kesempurnaan iman mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat, Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍ ‌‌‍ ‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‌‍‍‍ ‌‌‍ ۗ ‌‍‍‍ ‍‌‌‌ ‌‍
Yas'aluka 'Ahlu Al-Kitābi 'An Tunazzila `Alayhim Kitābāan Mina As-Samā'i ۚ Faqad Sa'alū Mūsá 'Akbara Min Dhālika Faqālū 'Arinā Al-Laha Jahratan Fa'akhadhat/humu Aş-Şā`iqatu Bižulmihim ۚ Thumma Attakhadhū Al-`Ijla Min Ba`di Mā Jā'at/humu Al-Bayyinātu Fa`afawnā `An Dhālika ۚ Wa 'Ātaynā Mūsá Sulţānāan Mubīnāan 004-153 Orang-orang Yahudi yang ingkar meminta kepadamu, wahai Rasulullah, untuk mendatangkan bukti yang membenarkan kenabianmu dengan mendatangkan kepada mereka kitab suci khusus yang turun dari langit, membuktikan kebenaran kerasulanmu dan mengajak mereka beriman dan menaatimu. Kalau permintaan mereka semakin banyak, kamu tidak perlu terburu-buru untuk memenuhinya. Sebab, para pendahulu mereka telah meminta yang lebih besar dari itu kepada Nabi Ms dengan mengatakan, "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." Allah menurunkan siksa berupa petir yang menyambar dan memusnahkan mereka karena kezaliman yang mereka perbuat. Kemudian ingatlah dosa mereka yang lebih besar dan lebih buruk dari itu, yaitu menjadikan anak sapi sebagai tuhan selain Allah setelah mereka menyaksikan bukti yang diperlihatkan Nabi Ms kepada Fir'aun dan kaumnya. Kemudian Allah memberi ampunan setelah mereka bertobat kepada-Nya, dan Allah telah menguatkan Nabi Ms dengan bukti yang nyata. ‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍‌‌ ۚ‍‍‌ ‍‌ ‌‍‌ ‍‌ ‌ ‍‍‍‍‍‌ ‌‍ ‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍ۚ ‍‍‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌ ‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‍‌ۚ ‌‌‌ ‌ ‍‍‍
Wa Rafa`nā Fawqahumu Aţ-Ţūra Bimīthāqihim Wa Qulnā Lahum Adkhulū Al-Bāba Sujjadāan Wa Qulnā Lahumu Lā Ta`dū Fī As-Sabti Wa 'Akhadhnā Minhumthāqāan Ghalīžāan 004-154 Allah mengangkat bukit di atas kepala Ban Isr'l, sebagai ancaman karena mereka tidak mau menerima hukum Tawrt, sampai mereka menerimanya. Allah juga mengambil perjanjian dari mereka lalu memerintahkan kepada mereka untuk memasuki kampung dengan tunduk kepada-Nya dan tidak melanggar perintah-Nya dengan tetap beribadah pada hari Sabtu. Sesungguhnya Allah telah mengambil itu semua dari mereka sebagai perjanjian yang kokoh. ‌‍‌ ‍‍‍‌‍‍ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‌‍‍‌ ‌ ‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‌ ‍‌‍‍‍‌ ‍‍‍‍
Fabimā Naqđihimthāqahum Wa Kufrihim Bi'āyāti Allāhi Wa Qatlihimu Al-'Anbiyā'a Bighayri Ĥaqqin Wa Qawlihim Qulūbunā Ghulfun ۚ Bal Ţaba`a Allāhu `Alayhā Bikufrihim Falā Yu'uminūna 'Illā Qalīlāan 004-155 Allah kemudian menjadi murka, karena mereka melanggar perjanjian, mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah dan membunuh nabi-nabi secara zalim. Selain itu, juga karena tetap lebih memilih kesesatan dengan mengatakan, "Hati kami telah tertutup dan tidak akan menerima apa yang diserukan kepada kami." Mereka tidak jujur mengatakan hal itu. Allahlah yang menutup dan mengunci hati mereka akibat kekufuran mereka. Hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman. ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‍‍‍ ‍ ‌‍‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍‍‌ ‍‌ۚ ‍ ‌ ‍ ‌ ‍‍‍ ‌‌
Wa Bikufrihim Wa Qawlihim `Alá Maryama Buhtānāan `Ažīmāan 004-156 Allah murka kepada mereka, karena kekufuran dan dusta besar yang mereka tuduhkan kepada Maryam. ‌‍‍ ‌ ‌ ‍‍‍
Wa Qawlihim 'Innā Qatalnā Al-Masīĥa `Īsá Abna Maryama Rasūla Allāhi Wa Mā Qatalūhu Wa Mā Şalabūhu Wa Lakin Shubbiha Lahum ۚ Wa 'Inna Al-Ladhīna Akhtalafū Fīhi Lafī Shakkin Minhu ۚ Mā Lahum Bihi Min `Ilmin 'Illā Attibā`a Až-Žanni ۚ Wa Mā Qatalūhu Yaqīnāan 004-157 Allah juga murka kepada mereka, sebab dengan nada meremehkan dan menghina, mereka berkata, "Kami telah membunuh 'Is al-Mash putra Maryam, Rasulullah." Padahal sebenarnya mereka tidak membunuh dan menyalib 'Is putra Maryam seperti pengakuan mereka. Tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang dijadikan tampak mirip 'Is. Mereka mengira telah membunuh dan menyalib 'Is, padahal mereka hanya membunuh dan menyalib orang yang mirip 'Is putra Maryam. Setelah itu mereka saling berbeda pendapat mengenai siapa sebenarnya yang mereka bunuh: 'Is atau bukan. Mereka benar-benar ragu dalam hal ini. Sebenarnya, yang terjadi adalah bahwa mereka mengatakan hal itu tanpa dasar pengetahuan selain prasangka saja. Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh adalah 'Is. ‍ ‌‍‌ ‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‍‌ ‍‌‍‍ۚ ‌ ‍ ‍‌‌ ‌‌ ‍‍ ‍‍ ۚ ‌‌ ‍‍‍‍‍‍
Bal Rafa`ahu Allāhu 'Ilayhi ۚ Wa Kāna Allāhu `Azīzāan Ĥakīmāan 004-158 Malah, yang sebenarnya terjadi, adalah bahwa Allah mengangkat 'Is ke sisi-Nya dan menyelamatkannya dari serangan musuh. Mereka tidak menyalib dan tidak pula membunuh 'Is. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana dalam semua perbuatan-Nya. ‌‍ ‍ ‌‍‍‍ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌
Wa 'In Min 'Ahli Al-Kitābi 'Illā Layu'uminanna Bihi Qabla Mawtihi ۖ Wa Yawma Al-Qiyāmati Yakūnu `Alayhim Shahīdāan 004-159 Tidak ada seorang pun dari Ahl al-Kitb yang sebelum wafat tidak mengetahui hakikat Nabi 'Is yang merupakan hamba dan rasul Allah. Ia, sebelum wafat, pasti beriman kepada 'Is, tapi keimanan itu tidak berguna lagi karena waktunya sudah berlalu. Pada hari kiamat nanti 'Is a. s. akan menjadi saksi atas mereka bahwa ia telah menyampaikan risalah Tuhan-Nya, dan bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul- Nya. ‌‌ ‍‌‍‍ ‌‌ ‍ ‍‍‍ ‍ ۖ ‌‍ ‍‍‍ ‍‍‍
Fabižulmin Mina Al-Ladhīna Hādū Ĥarramnā `Alayhim Ţayyibātin 'Uĥillat Lahum Wa Bişaddihim `An Sabīli Allāhi Kathīrāan 004-160 Akibat kezaliman yang dilakukan orang-orang Yahudi, Allah pun menyiksa mereka dengan mengharamkan sejumlah makanan yang baik-baik yang sebelumnya halal. Di antara bentuk kezaliman itu adalah menghalangi manusia untuk masuk agama Allah. ‍‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍ ‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍‍ ‍
Wa 'Akhdhihimu Ar-Ribā Wa Qad Nuhū `Anhu Wa 'Aklihim 'Amwāla An-Nāsi Bil-Bāţili ۚ Wa 'A`tadnā Lilkāfirīna Minhum `Adhābāan 'Alīmāan 004-161 Karena mereka memberlakukan riba--padahal Allah telah mengharamkan--dan karena memakan harta orang secara tidak benar, agama memberikan hukuman berupa pengharaman makanan yang baik-baik kepada mereka. Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi orang kafir siksa yang menyakitkan. ‌‍‍‌ ‌‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍ۚ ‌‌‍‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‌‌ ‌
Lakini Ar-sikhūna Fī Al-`Ilmi Minhum Wa Al-Mu'uminūna Yu'uminūna Bimā 'Unzila 'Ilayka Wa Mā 'Unzila Min Qablika Wa ۚ Al-Muqīmīna Aş-Şalāata Wa ۚ Al-Mu'utūna Az-Zakāata Wa Al-Mu'uminūna Billāhi Wa Al-Yawmi Al-'Ākhiri 'Ūlā'ika Sanu'utīhim 'Ajan `Ažīmāan 004-162 Tetapi orang-orang Yahudi yang mendalami ilmu dan orang-orang yang beriman dari umatmu, Muhammad, percaya kepada apa yang diwahyukan kepadamu dan apa yang diwahyukan kepada rasul-rasul sebelummu. Orang-orang yang melaksanakan salat dengan benar, menunaikan zakat, percaya kepada Allah, hari kebangkitan dan pembalasan, maka Allah akan memberi pahala yang baik kepada mereka atas keimanan dan ketaatannya. ‌‍‍‍ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‌ ‌‌‍ ‌‍‍‍‍ ‌‍‌ ‌‌‍ ‍‌ ‍‍ۚ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ۚ‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‌‌ ‍‍‍
'Innā 'Awĥaynā 'Ilayka Kamā 'Awĥaynā 'Ilá Nūĥin Wa An-Nabīyīna Min Ba`dihi ۚ Wa 'Awĥaynā 'Ilá 'Ibhīma Wa 'Ismā`īla Wa 'Isĥāqa Wa Ya`qūba Wa Al-'Asbāţi Wa `Īsá Wa 'Ayyūba Wa Yūnus Wa Hārūna Wa Sulaymāna ۚ Wa 'Ātaynā Dāwūda Zabūan 004-163 Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu al-Qur'n dan syariat. Begitu juga, Kami telah memberi wahyu kepada Nh dan nabi-nabi yang datang sesudahnya. Juga, Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrhm, Ism'l, Ishq, Ya'qb dan Asbth (yaitu nabi-nabi dari keturunan Ya'qb), 'Is, Ayyb, Ynus, Hrn dan Sulaymn. Selain itu, Kami telah mewahyukan pula kepada Dwd dengan menurunkan kitab Zabr kepadanya. ‌ ‌‌‍‌ ‌‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌‍‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ۚ ‌‌‌‍‌ ‌‍‌ ‌‍‍‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍ ‌‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌‌‍‍‍ ‌ ‌‌‍‍‌ ‌‍‍‍ ۚ ‌‌‌ ‌‌‌‍‍‌‌‌ ‌‌‌
Wa Rusulāan Qad Qaşaşnāhum `Alayka Min Qablu Wa Rusulāan Lam Naqşuşhum `Alayka ۚ Wa Kallama Allāhu Mūsá Taklīmāan 004-164 Begitulah, Kami telah mengutus banyak rasul sebelummu. Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kisahnya kepadamu, dan ada pula yang tidak Kami ceritakan. Cara Allah memberikan wahyu kepada Ms adalah dengan berbicara secara langsung dari balik tabir, tanpa perantara. ‌‌‍‍‍‍‍ ‍‍‍‍ ‍‌ ‍‍‍ ‌‌‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‍‍ۚ‍ ‌
Rusulāan Mubashshirīna Wa Mundhirīna Li'llā Yakūna Lilnnāsi `Alá Allāhi Ĥujjatun Ba`da Ar-Rusuli ۚ Wa Kāna Allāhu `Azīzāan Ĥakīmāan 004-165 Semua rasul itu Kami utus sebagai pembawa berita gembira berupa pahala bagi siapa yang percaya, dan pemberi peringatan berupa siksa bagi siapa yang kufur. Hal itu agar tidak ada alasan lagi bagi manusia untuk membantah Allah setelah diutusnya rasul-rasul itu. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Mahamenang dan tidak ada yang menyaingi-Nya, lagi Mahabijaksana dalam segala perbuatan-Nya. ‌ ‍‍‍‍‍ ‌‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‍ ‌‌ ‌ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌‌
Lakini Allāhu Yash/hadu Bimā 'Anzala 'Ilayka ۖ 'Anzalahu Bi`ilmihi Wa ۖ Al-Malā'ikatu Yash/hadūna ۚ Wa Kafá Billāhi Shahīdāan 004-166 Namun jika mereka tidak mau mengakui kebenaranmu, Allah akan tetap memberikan persaksian atas kebenaran al-Qur'n yang diturunkan kepadamu. Dia menurunkannya sesuai dengan ilmu-Nya. Malaikat- malaikat pun menjadi saksi atas hal itu. Persaksian Allah sudah cukup bagimu, Muhammad, hingga kamu tidak memerlukan lagi persaksian yang lain. ‍ ‌ ‍‌ ‌‌‍ ‌‍‍‍ۖ ‌‌‍‍ ۖ ‍‍‌ ۚ ‌‌ ‍‍ ‌
'Inna Al-Ladhīna Kafarū Wa Şaddū `An Sabīli Allāhi Qad Đallū Đalālāan Ba`īdāan 004-167 Sesungguhnya orang-orang kafir yang tidak percaya kepadamu dan menghalang-halangi manusia untuk masuk ke dalam agama Allah, benar-benar telah tersesat jauh dari kebenaran. ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‌‌ ‍‌‍‍‍‌ ‌
'Inna Al-Ladhīna Kafarū Wa Žalamū Lam Yakuni Allāhu Liyaghfira Lahum Wa Lā Liyahdiyahum Ţarīqāan 004-168 Orang-orang yang kafir dan menganiaya diri mereka dengan kekufuran, menganiaya Rasulullah saw. dengan mengingkari rislahnya, dan menganiaya manusia dengan menyembunyikan kebenaran, sungguh tidak akan diampuni Allah selama mereka masih kafir. Mereka juga tidak akan ditunjukkan Allah ke jalan keselamatan. Allah memang tidak akan mengampuni orang-orang yang sesat seperti mereka. ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍
'Illā Ţarīqa Jahannama Khālidīna Fīhā 'Abadāan ۚ Wa Kāna Dhālika `Alá Allāhi Yasīrāan 004-169 Tetapi, sebaliknya, mereka akan ditunjukkan Allah jalan ke neraka. Mereka akan kekal abadi di dalamnya. Hal itu sungguh mudah bagi Allah. ‍‍‍‍‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‌ۚ ‌‍‍‍ ‌ ‌ ‍ ‍
Yā 'Ayyuhā An-Nāsu Qad Jā'akumu Ar-Rasūlu Bil-Ĥaqqi Min Rabbikum Fa'āminū Khayan Lakum ۚ Wa 'In Takfurū Fa'inna Lillāh Mā Fī As-Samāwāti Wa Al-'Arđi ۚ Wa Kāna Allāhu `Alīmāan Ĥakīmāan 004-170 Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah (Muhammad) membawa agama yang benar dari sisi Tuhan kalian. Maka, percayailah ajaran yang dibawanya, karena hal itu lebih baik bagi kalian. Jika kalian menolak ajarannya dan lebih memilih kekufuran, maka Allah sebenarnya tidak membutuhkan keimanan kalian, karena Dia adalah penguasa kalian. Segala apa yang ada di langit dan bumi adalah hak-Nya: hak milik, hak cipta dan hak pakai. Dialah yang Maha Mengetahui semua makhluk-Nya lagi Mahabijaksana dalam berbuat. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik dan tidak akan melalaikan balasan orang-orang yang berbuat jahat. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍ ‍‌ ‌‍ ‍‌ۚ ‌‌‌ ‍‌‍‍‌‌‍ ۚ ‌‍‍‍ ‍ ‌
Yā 'Ahla Al-Kitābi Lā Taghlū Fī Dīnikum Wa Lā Taqūlū `Alá Allāhi 'Illā Al-Ĥaqqa ۚ 'Innamā Al-Masīĥu `Īsá Abnu Maryama Rasūlu Allāhi Wa Kalimatuhu~ 'Alqāhā 'Ilá Maryama Wa Rūĥun Minhu ۖ Fa'āminū Billāhi Wa Rusulihi ۖ Wa Lā Taqūlū Thalāthatun ۚ Antahū Khayan Lakum ۚ 'Innamā Al-Lahu 'Ilahun Wāĥidun ۖ Subĥānahu~ 'An Yakūna Lahu Waladun ۘ Lahu Mā Fī As-Samāwāti Wa Mā Fī Al-'Arđi ۗ Wa Kafá Billāhi Wa Kīlāan 004-171 Wahai Ahl al-Kitb, janganlah kalian menentang kebenaran dan melampaui batas dalam beragama. Jangan berbuat dusta kepada Allah dengan mengingkari risalah 'Is a. s atau dengan menjadikannya sebagai tuhan selain Allah. 'Is al-Mash hanyalah rasul Allah seperti rasul-rasul yang lain. 'Is diciptakan Allah dengan kekuasaan dan kalimat-Nya yang disampaikan dan ditiupkan oleh malaikat Jibrl kepada Maryam. Hal itu merupakan salah satu rahasia kekuasaan Allah. Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul- rasul-Nya dengan benar dan jangan beranggapan bahwa tuhan itu ada tiga. Tinggalkanlah kebatilan itu, karena hal itu lebih baik. Sesungguhnya Allah Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Mahasuci dari kemungkinan mempunyai anak. Segala yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara dan pengatur kepunyaan-Nya. ‌ ‌ ‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‌ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌ ‍ ‌‌ ۚ‍‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍ ‌‍‍‍ ‍ ‌~ ‌‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‌‌‍‍‌‌ ‍‌‍‍ۖ ‌ ‍‍ ‌‌‍ ۖ ‌‌ ‍‍‍‌ ‌ۚ ‍‌ۚ‍‌ ‌ ‌‌‌ۖ‍‍~ ‌‌‍‍ۘ‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‍ ۗ ‌‌ ‍‍ ‌
Lan Yastankifa Al-Masīĥu 'An Yakūna `Abdāan Lillāh Wa Lā Al-Malā'ikatu Al-Muqarrabūna ۚ Wa Man Yastankif `An `Ibādatihi Wa Yastakbir Fasayaĥshuruhum 'Ilayhi Jamī`āan 004-172 'Is al-Mash tidak akan sombong lalu enggan menjadi hamba Allah. Begitu juga malaikat-malaikat yang dekat kepada-Nya. Barangsiapa sombong dan enggan menyembah Allah, maka ia tidak akan lepas dari siksa-Nya pada hari ketika Dia mengumpulkan manusia untuk diperhitungkan amal perbuatannya. ‍‌ ‍‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍‍‍‍‍‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ۚ ‌‍‌ ‍‌‍‍‍ ‍‌ ‌‍ ‌‍‌ ‌‍‍‍
Fa'ammā Al-Ladhīna 'Āmanū Wa `Amilū Aş-Şāliĥāti Fayuwaffīhim 'Ujūrahum Wa Yazīduhum Min Fađlihi ۖ Wa 'Ammā Al-Ladhīna Astankafū Wa Astakbarū Fayu`adhdhibuhum `Adhābāan 'Alīmāan Wa Lā Yajidūna Lahum Min Dūni Allāhi Walīyāan Wa Lā Naşīrāan 004-173 Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah akan memberikan secara penuh pahala amal perbuatan mereka dan akan memberikan tambahan dengan karunia-Nya, sebagai penghormatan dan pelimpahan nikmat. Sedangkan orang-orang yang enggan beribadah dan bersyukur kepada Allah, maka Allah benar-benar akan menyediakan bagi mereka siksa yang menyakitkan. Mereka tidak akan mendapatkan seorang penolong pun yang akan menolong dan melindungi mereka dari siksa itu. ‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‌‍‍‍‍‍‍ ‌‌‍ ‌ ‍‌‍‍‍‍ ۖ ‌‌‍‌ ‍‍‍‍‌‍‍‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ‌‌ ‍‍‌ ‍‌‍‍‌ ‍ ‌‌ ‌‌ ‍‍‍‍‍
Yā 'Ayyuhā An-Nāsu Qad Jā'akum Burhānun Min Rabbikum Wa 'Anzalnā 'Ilaykuman Mubīnāan 004-174 Wahai umat manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian bukti-bukti nyata yang membenarkan kerasulan Muhammad. Melalui ucapannya, Kami menurunkan al-Qur'n yang jelas bagai cahaya kepada kalian, yang menerangi dan menunjukkan kalian ke jalan keselamatan. ‌ ‌‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍‍‍‌ ‍‍‍‌ ‍‌ ‌‍ ‌‌‌‍‍‌ ‌ ‌‌
Fa'ammā Al-Ladhīna 'Āmanū Billāhi Wa A`taşamū Bihi FasayudkhiluhumRaĥmatin Minhu Wa Fađlin Wa Yahdīhim 'Ilayhi Şirāţāan Mustaqīmāan 004-175 Orang-orang yang beriman kepada Allah dan kerasulan Muhammad serta berpegang teguh pada agamanya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga di akhirat kelak, dan akan memberi mereka rahmat serta karunia yang luas. Sedang di dunia, mereka akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus. ‍‌ ‍‍‍‍ ‌‌ ‍‍ ‌‍‍‌ ‍‍‍‍ ‌‍‌ ‍‌‍‍‍ ‌‍‍‍‌ ‌ ‌‍‍‍‌ ‍‍‍
Yastaftūnaka Quli Allāhu Yuftīkum Al-Kalālati ۚ 'Ini Amru'uun Halaka Laysa Lahu Waladun Wa Lahu~ 'Ukhtun Falahā Nişfu Mā Taraka ۚ Wa Huwa Yarithuhā 'In Lam Yakun Lahā Waladun ۚ Fa'in Kānatā Athnatayni Falahumā Ath-Thuluthāni Mimmā Taraka ۚ Wa 'In Kānū 'Ikhwatan Rijālāan Wa Nisā'an Falildhdhakari Mithlu Ĥažži Al-'Unthayayni ۗ Yubayyinu Allāhu Lakum 'An Tađillū Wa ۗ Allāhu Bikulli Shay'in `Alīmun 004-176 Wahai Rasulullah, mereka bertanya kepadamu mengenai warisan orang yang wafat tanpa mempunyai anak dan ayah. Ketentuan Allah dalam hal ini adalah sebagai berikut. Jika orang yang wafat itu meninggalkan saudara perempuan, maka ia memperoleh setengah bagian dari harta waris. Jika ia meninggalkan saudara laki-laki, maka ia akan memperoleh semua harta waris. Jika ia mempunyai dua saudara perempuan, maka keduanya mendapat dua pertiga dari harta waris. (1) Dan jika ahli waris itu terdiri atas saudara-saudara laki dan perempuan, maka bagian laki-laki dua kali lebih banyak dari bagian perempuan. Allah menjelaskan hukum ini semua, supaya kamu tidak sesat dalam membagi warisan masing- masing ahli waris. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala amal perbuatanmu, dan Dia yang akan memberi balasan kepadamu sesuai dengan amal perbuatan yang kamu lakukan. (1) Hadis Rasulullah saw. menyebutkan juga saudara perempuan yang berjumlah lebih dari dua orang, di samping ketentuan ayat yang menyebutkan bahwa anak perempuan lebih dari dua orang memperoleh dua pertiga bagian. Ketentuan ini tentu lebih berlaku lagi pada dua saudara perempuan, karena hubungan anak lebih dekat. Sedangkan undang-undang Eropa yang diambil dari undang-undang Romawi menetapkan bahwa saudara (laki-laki dan perempuan) dengan anaknya tidak mendapatkan harta waris. Lebih dari itu, undang-undang itu memberi kewenangan penuh kepada pemilik harta untuk tidak memberikan warisan kepada seluruh ahli warisnya. Hal itu kemudian dilarang oleh Islam, dengan hanya memberikan hak wasiat kepada pewaris pada sepertiga hartanya. ۚ‌‌ ‍‍‍‍ ‍‌ ‌~ ‌‍‍‌‌ ‌ ‍‍‍‍ ‌ ‍ ۚ ‌‌ ‍‌ ‌‌ ‍‌ ‌ ‌‌ۚ‍‍‍ ‌ ‍‍‍‍‍‍‍‌ ‍ ۚ ‌‌‌‌ ‌ ‌ ‌‍‍‍‌‌‌ ‍‍‍‌ ‍ ‍‍‍‍ۗ ‍ ‌‌‍‍ۗ
Toggle thick letters. Most people make the mistake of thickening thin letters in the words that have other (highlighted) thick letter Toggle to highlight thick letters
Next Sūrah